Legenda Pria Sejati

Puncak Es di Pegunungan Jaya Wijaya

Puncak Es di Pegunungan Jaya Wijaya

 Gambaran seorang pria dalam iklan rokok ditampilkan sangat jantan,
misalnya seorang petualang yang hobinya panjat tebing, berkejar-
kejaran dengan Harimau, dan ketika dia menarik busur panahnya tiba-
tiba saja hinggap burung Elang di lengannya. Pria yang bermain arung
jeram dengan penampilan sangat dramatis, pria yang berkendaraan di
puncak bukit karang, atau mengikuti tour off road hingga berakhir
dengan pesta api unggun.

Ada tontonan joget bersama di warung kopi, lalu iklan rokok itu
berakhir dengan kalimat ejekan, Pria Gak Punya Selera…Mati Aja Loe…

Itulah LEGENDA PRIA SEJATI yang dikampanyekan dalam iklan-iklan rokok.

Pantas saja anak-anak kecil ikutan merokok, justru mereka itu yang
mudah terpengaruh dan menjadi korban tontonan-tontonan seperti itu.

Jangankan bagi anak kecil, banyak juga orang dewasa yang terpengaruh
dan saya sangat terkejut membaca tulisan seorang blogger bahwa dalam
bayangannya seperti itulah memang yang dimaksud dengan pria sejati itu.

Biaya kampanye anti rokok di New York sekitar 60 juta USD itu dibiayai
oleh perusahaan-perusahaan rokok, yang memang dituntut oleh para jaksa
di Amerika untuk mengganti kerugian rakyat akibat rokok, karena memang
banyak rakyat Amerika meninggal karena merokok.

Biaya tersebut adalah untuk iklan-iklan anti rokok, mencegah penjualan
rokok kepada remaja dibawah 18 tahun, mendirikan program-program
pemberhentian merokok bagi pecandu rokok berat dan mensubsidi biaya
obat-obatan untuk membantu orang-orang yang berhenti merokok.

Saya yakin banyak yang berkiblat ke pendidikan di Amerika, tetapi mengapa
tidak mengambil pendidikan yang baik-baik saja dari mereka.

Menurut saya, pria sejati yang pantas mendapat Mahkota Kaisar Romawi
adalah pria yang sanggup menaklukkan jiwanya untuk berhenti merokok.
Sebagaimana pepatah mengatakan : Barangsiapa yang berhasil merebut
dirinya sendiri, sama saja dengan berhasil merebut kota ROma.

Kita harus sanggup merebut diri kita sendiri dari penjajahan nikotin,
sebab zat adiktip itulah yang berhasil menipu pusat syaraf kita selama
ini dengan kenikmatan semu.

Adik kandung saya mengatakan sambil mengacungkan rokoknya: ” Di dunia
ini sudah tidak ada lagi kenikmatan, jadi hanya dari inilah satu-
satunya asal kenikmatan itu”

Tetapi kemampuan fisiknya jauh berbeda dengan seorang kenalan saya yang
jauh lebih tua, Pak Endang seorang ahli kayu dan perabotan di Kranji
Bekasi, pekerjaannya banyak mengangkat balok-balok kayu, padahal sudah
mempunyai cucu. Dulu dia perokok berat, tetapi karena ancaman penyakit
Liver menyebabkan dia berhasil berhenti merokok sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: