Kebahagiaan Rakyat

By Christine Gascoine from the book of The Great Moghuls

Ketika para sahabat menanyakan kepada Rasul jalan apakah yang harus dilalui agar orang banyak mengecap kebahagiaan, dan mengapakah kebahagiaan itu tidak kunjung tiba, padahal harta benda melimpah, banyak gedung-gedung mewah didirikan, berbagai kemajuan telah dicapai, maka Rasul menjawab :  KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBAHAGIAKAN RAKYAT BANYAK DENGAN HARTA BENDA DAN KEDUDUKAN KAMU, TETAPI KALAU KAMU INGIN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN KEPADA MEREKA ADALAH DENGAN BUDI PEKERTI.

Bila orang kaya boleh bangga dengan harta bendanya yang banyak, bila
cerdik pandai boleh bergembira dengan bermacam ragam pengetahuannya,
bila orang berpangkat merasa suka senang dengan kedudukannya yang
tinggi, bila orang yang tegap kuat boleh mempertontonkan kekuatannya.
Maka diatas segala-galanya itu orang yang berbudilah yang mempunyai
lapangan yang luas dan kekuatan yang abadi, lapangan dan kekuatan
yang melebihi kekayaan, melebihi pangkat yang tinggi, melebihi
kekuatan tenaga dan pengaruh harta benda.

Belum tentu anda akan disegani orang lantaran berharta banyak. Belum
tentu anda akan dihormati orang lantaran berkududukan yang tinggi.
Belum tentu anda diyakini orang bahwa anda akan berbakti kepada nusa
dan bangsa lantaran ilmu anda yang menjulur tinggi ke langit biru.

Kita memang mengakui bahwa pangkat dan harta benda serta pengaruh
seseorang itu memang ada kekuatanyya. Tetapi selama itu jauh dari
budi, maka kekuatannya sangat terbatas. Berlainan dengan kekuatan
budi. Budi itu mempunyai kekuatan yang mutlak.

Harta benda memang mempunyai kekuatan, tetapi hanyalah melalui
perkiraan untung dan rugi. Demikian pula misalnya pengaruh politik
mempunyai kekuatan dengan memakai neraca “ambillah kesempatan dalam
suatu kesempatan untuk suatu kesempatan yang lain”
 
Adapun kekuatan budi tidak melalui perkiraan dan pedoman seperti itu
tetapi ia hanya mengenal hak dan kewajiban yang didorong oleh rasa
kepercayaan dan kemanusiaan.

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading,
manusia mati meninggalkan budi.

(disarikan dari Budi dalam Kehidupan Diri dan Masyarakat, oleh
H.M. Bustami Ibrahim, Medan, 1960).

Mudah-mudahan informasi ini yang ada sejak 1400 tahun yang lalu sampai kepada para calon pemimpin kita di Indonesia untuk periode 2009-2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: