Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Taman di kota Paris

Taman di kota Paris

WHO mencanangkan tanggal 31 Mei 2009  Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Tujuannya adalah agar setiap negara berlomba-lomba mengendalikan kegiatan merokok. Tetapi ternyata bahwa negara kita merupakan Negara ASEAN “terlonggar” dalam pengendalian rokok. Dalam memperingati Hari Tidak Merokok Seduniapun hanya sebatas himbauan tidak merokok selama satu hari di tempat-tempat umum.

Di sisi lain jumlah perokok muda (anak sekolah/remaja) dan angka kematian perokok di Indonesia semakin meningkat tajam.  Menurut data dari PDPERSI (Pusat Data Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) Hasil penelitian menunjukkan hampir 70% perokok Indonesia mulai merokok sebelum mereka berumur 19 tahun. Survei pada anak-anak sekolah usia 13-5 tahun di Jakarta menunjukkan bahwa lebih dan 20% adalah perokok tetap dan 80% di antaranya ingin berhenti merokok tetapi tidak berhasil. Ternyata Indonesia menduduki peringkat pertama untuk  jumlah perokok muda  se Asia Pasifik.

Karenanya pada momentum peringatan Hari Tidak Merokok Sedunia ini, tentu sangatlah relevan untuk mengaktualisasi kembali program WHO, karena praktis belum ada Propinsi, Kota/Kabupaten yang konsisten membatasi rokok, walaupun DKI Jakarta mengeluarkan Pergub DKI no 75 tahun 2005 Tentang Kawasan Dilarang Merokok dan DI Yogyakarta telah
menghasilkan Perda pembatasan rokok tahun 2007 (No 5/2007) sebagai Perda Pengendalian Pencemaran Udara yang sosialisasi dan tentang pelaksanaannya diserahkan kepada Pemkot/Kabupaten, namun kesannya PemKot/Kab belum memberi reaksi yang memadai.

Sebenarnya Perda pencemaran akibat rokok “harus diberi perhatian
khusus” karena rokok justru sengaja dicari, dibeli, dan dinikmati.
Juga puntung rokok terbukti sering menjadi penyebab kebakaran.

Pemerintah RI sendiri sudah mengeluarkan PP 19 tahun 2003 Peraturan Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan ditandatangani Presiden Megawati dan juga ditandatangani oleh Sekertaris Negara Bambang Kesowo.

Ternyata situasi merokok pun masih berlangsung di tempat-tempat umum, budaya merokok terus berkembang secara vertikal dan horisontal. Kemasan/iklan promosi rokok masih muncul dengan bebas, meriah, gagah, sebagai pria sejati, pria berselera tinggi, yang jantan, yang berani, sehingga membuat anak-anak kecil mencoba mengepulkan asap rokok agar menjadi pria sejati sesuai mitos yang diciptakan iklan-iklan rokok.

Bahkan ironisnya juga dalam bentuk sponsor olahraga suatu yang erat hubungannya dengan kesehatan, kebugaran, kedisiplinan, ketangguhan, citra perjuangan hidup. Celakanya bunyi iklan “rokok justru memberi hidup baru”. Di sisi lain iklan Peringatan Bahaya Rokok di media cetak dan audio visual masih setengah-setengah, itupun waktu tayangnya disembunyikan atau sangat singkat dan sangat cepat.

Beberapa faktor penyebab negara kita masih longgar dalam pengendalian rokok adalah:

1) Secara ekonomis, tembakau merupakan sumber pemasukan pajak cukai, memberi lapangan kerja petani, pekerja pabrik rokok, pemasaran bahkan pedagang rokok kaki lima sampai pedagang rokok asongan. Dan industri rokok ini faktanya menghidupi sekitar 30 juta rakyat Indonesia.

2) Budaya Pertanian Tembakau sekaligus Budaya Merokok yang terjadi turun-temurun dan juga berkembang horisontal, membentuk kebersamaan, membentuk citra martabat, kejantanan, persahabatan dan pergaulan. Di India faktor ini tidak menonjol sehingga rokok sangat mahal, banyak terjadi kasus penyelundupan rokok dan pemalsuan rokok.

3) Di samping mitos budaya, rokok juga diyakini memberi mitos yang positif mengenai menyegarkan inspirasi, menghilangkan stres dan meningkatkan gairah kerja.

4) Budaya pola pikir dan pola kerja kita yang ingin serba gampang, serba setengah-setengah, tidak sungguh-sungguh dan kurang disiplin.

5) Budaya perhelatan, kegiatan budaya, seni, olahraga, seminar, media massa, televisi menikmati dana sponsor dari industri rokok.
Padahal menurut WHO “bahwa manfaat dan nilai ekonomis rokok jauh tidak seimbang dibandingkan dengan penyakit dan biaya pengobatannya “bukankah nilai kebugaran SDM, kesehatan dan jiwa/kematian tak dapat dinilai dengan uang? Untuk menginspirasi dan mendorong semua langkah pengendalian rokok-perokok tersebut perlu adanya sosialisasi berulang, berkesinambungan akan bahaya merokok terhadap kesehatan.

Di negara-negara maju, masyarakat tidak hanya takut pada peraturannya, tetapi juga sudah pada tahap masalah etika dan kesopanan. Orang yang merokok sembarangan dianggap sebagai orang yang tidak ber-etika dan melanggar sopan-santun. Mereka akan menganggap si perokok pasti berasal dari negara dunia ketiga, dimana sikap tidak menaati peraturan adalah
hal yang biasa. Kadang orang menyebutkan negara di mana aturan masih bisa ‘ditawar’. Orang awak ini kapan menjadi bangsa yang bermartabat. 

Dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: