Rokok Penyebab Kemiskinan

Jamaah Haji Tahun 1953 didepan Ka'bah

Jamaah Haji Tahun 1953 didepan Ka'bah

3/4 dari perokok adalah rakyat miskin, dimana mereka bahkan sudah menganggap bahwa merokok adalah kebutuhan pokok dibawah beras, ditambah dengan kurangnya pendidikan sehingga mereka tidak memperhatikan kesehatan. Merokok menggerus belanja mereka, menggerus biaya kesehatan dan biaya pendidikan anak-anak mereka. Belanja rokok mengurangi investasi usaha mereka yang kecil, belanja rokok menurunkankan produktifitas kerja mereka karena keadaan serba kekurangan yang ditimbulkannya.

Ternyata perokok sebagian besar berada di negara-negara berkembang dan miskin sebesar 84 persen dibandingkan dengan di negara-negara kaya dan maju dari total keseluruhan 1,1 miliar orang perokok pada 2003.
Di Indonesia sendiri, perokok terbanyak adalah berasal dari masyarakat ekonomi lemah atau miskin dibandingkan perokok yang berasal dari penduduk kelas menengah dan kelas atas, dan perokok dari penduduk pedesaan dibandingkan perokok dari penduduk perkotaan (BPS,2001). Pada 2002, perokok aktif di Indonesia mencapai 51 juta orang dimana sebagian besar berkategori miskin. Prevalensi merokok ditemukan paling tinggi di antara penduduk berusia 15 tahun ke atas yang tidak sekolah dan tidak tamat SD sebesar 31,5 persen (BPS, 2003).

Besarnya biaya konsumsi rokok dibandingkan untuk membeli daging, susu, telur, dan buah mengakibatkan dua sampai lebih dari empat pada 10 anak balita menderita kekurangan gizi di 72 persen kabupaten Indonesia (Bappenas,2003). Kondisi ini mengakibatkan Indonesia tercatat di posisi rendah di bidang kualitas kesehatan anak di tingkat ASEAN., akhir-akhir ini diberitakan konsumsi susu bayi-bayi di Indonesia di peringkat paling bawah se Asia Tenggara.

Melihat data ini, rasanya terlalu jauh, untuk berharap adanya kesadaran mengalokasikan sebagian anggaran untuk peningkatan kualitas pendidikan anak-anaknya. Menurut Susenas tahun 2003, besarnya biaya konsumsi rokok 2,5 kali  biaya untuk pendidikan.
Dari survey yang ditayangkan sebuah TV yang dilakukan pada masyarakat menengah ke bawah ternyata sungguh mencengangkan. Bayangkan, seorang tukang ojek menghabiskan 2/3 penghasilannya untuk membeli rokok. Begitu juga para pemulung dan pekerja non formal lainnya. Ironis memang, mereka yang berada di bawah garis kemiskinan malah menambah beban hidupnya dengan menjadi budak rokok.

Terlihat secara kasar bahwa gizi yang rendah dan juga berakibat pada tingkat kesehatan yang rendah serta ketidakmampuan untuk mengakses pendidikan mengakibatkan adanya lingkaran kemiskinan yang tidak kunjung berakhir. Rokok yang disadari atau tidak disadari telah menjadi pemicu kuat dan perekat kuat rantai kemiskinan tersebut. Sehingga dapat dikatakan rokok adalah salah satu penyebab kemiskinan.

Memang secara ekonomis bagi negara, tembakau merupakan sumber pemasukan pajak cukai, memberi lapangan kerja petani, pekerja pabrik rokok, pemasaran bahkan pedagang rokok kaki lima sampai pedagang rokok asongan. Dan industri rokok ini faktanya menghidupi sekitar 30 juta rakyat Indonesia. Sehingga yang diperlukan adalah juga peran serta masyarakat untuk mengalihkan sedikit demi sedikit usaha tembakau dan industri rokok ini, karena ini mengorbankan lebih banyak masyarakat miskin dan dalam jangka panjang akan menjadi bencana bagi masa depan bangsa.

Menurut WHO “Bahwa manfaat dan nilai ekonomis rokok jauh tidak seimbang jika dibandingkan dengan penyakit dan biaya pengobatannya.“ Sebab bukankah nilai kebugaran SDM, nilai kesehatan dan jiwa/kematian tak dapat dinilai dengan uang?. Dengan perkataan lain nilai ekonomis rokok lebih banyak mudaratnya dibandingkan manfaatnya, bagaimanapun rokok banyak menguras uang rakyat kecil. Dapatkah kita menolong agar mereka terlepas dari perbudakan nikotin?, atau kita membiarkan saja kemiskinan merajalela karenanya.
Pada tahun 2008 Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Indonesia sebagai negara terbesar ke tiga sebagai pengguna rokok. Lebih dari 60 juta perokok, mengalami ketidak berdayaan akibat dari adiksi nikotin rokok. “Dan kematian akibat konsumsi rokok tercatat lebih dari 400 ribu orang per-tahun.” Konsumsi rokok di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 240 miliar batang atau setara dengan 658 juta batang rokok perhari-nya yang berarti uang senilai Rp 330 miliar dibelanjakan para perokok dalam satu hari.

Dalam roadmap industri rokok tahun 2007-2020 pemerintah, telah menargetkan peningkatan produksi rokok dari 220 miliar batang pada 2007 menjadi 240 miliar batang pada 2010 hingga 2015, dan terus meningkat menjadi 260 miliar batang pada 2015 hingga 2020.

Roadmap tersebut, bukan menolong kesehatan, tetapi justru menjerumuskan rakyat ke lembah kemiskinan, kebodohan, dan kehancuran masyarakat. Dan, Indonesia menghabiskan Rp 180 triliun untuk biaya kesehatan akibat penyakit terkait tembakau atau 5,1 kali lipat pendapatan negara dari akibat cukai rokok.
Data-data diatas diungkapkan oleh Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau FA Moeloek dalam jumpa pers di Gedung Kebangkitan Nasional Stovia, Jakarta, Minggu (11/10/2009 Kompas.com).
“Pemerintah telah terjebak serta tidak memiliki visi dan kepedulian untuk melindungi rakyatnya dari bahaya rokok,” katanya.

dari berbagai sumber –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: