Perokok Anak-anak dan Remaja

Malam Hari di Singapura

Malam Hari di Singapura


”Anak-anak dan remaja menjadi perokok bukan tanpa alasan. Mereka menjadi target promosi dari industri rokok secara intensif. Kita sudah mengetahui hal ini selama beberapa dekade, tapi selalu kalah menghadapi industri rokok dan para pelobi mereka.

Tahun 1994 para CEO industri rokok pertama kali dihadirkan di Kongres dan mereka membantah bahwa tembakau itu mematikan, nikotin itu adiktif, atau bahwa perusahaan mereka membidik anak-anak dan remaja. Mereka menghabiskan miliaran dollar AS untuk lobi dan iklan guna membantah semua tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa semua itu adalah kebohongan. Namun, kini, 15 tahun kemudian, kampanye mereka gagal. Hari ini perubahan telah tiba di Washington”. Demikian pidato Presiden Barack Obama setelah menandatangani Undang-Undang Pencegahan Merokok dalam Keluarga dan Pengendalian Tembakau yang rancangannya telah dibahas dan disetujui oleh Kongres AS pada bulan Juni 2009 ini.

”Satu dari lima anak/remaja sudah menjadi perokok sebelum mereka tamat SLTA. Hampir 90 persen dari semua perokok mulai merokok sebelum mereka berusia 18 tahun. Saya tahu karena saya pernah menjadi seorang remaja seperti mereka. Jadi, saya tahu betapa sulitnya menghentikan kebiasaan merokok ini ” kata Obama yang sering mengutarakan tentang pergulatannya melawan kecanduan merokok. Undang-undang yang ditandatangani Obama akan melarang iklan rokok hingga 300-an meter dari sekolah dan tempat anak=anak bermain.

”Saat ini tembakau adalah penyebab utama kematian yang dapat dicegah bukan hanya di negeri Amerika saja, tapi juga di seluruh
dunia. Jika kecenderungan ini berlanjut terus, satu miliar orang akan mati karena penyakit-penyakit yang berkaitan dengan tembakau abad ini. Karena itu, kami akan terus bekerja bersama WHO dan negara-negara lain di dunia untuk memerangi epidemi ini secara global”

Menurut data dari PDPERSI (Pusat Data Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) Hasil penelitian menunjukkan hampir 70% perokok Indonesia mulai merokok sebelum mereka berumur 19 tahun. Survei pada anak-anak sekolah usia 13-5 tahun di Jakarta menunjukkan bahwa lebih dan 20% adalah perokok tetap dan 80% di antaranya ingin berhenti merokok tetapi tidak berhasil.

Philip Morris dan British American Tobacco (BAT) yang terus-menerus tertekan di negerinya itu sekarang sedang berpaling ke Indonesia. Nafsu untuk akuisisi semakin menguat dengan adanya fakta bahwa mayoritas perusahaan rokok Indonesia merupakan bisnis keluarga. Ketika sampai pada generasi ketiga, pada awal abad ke-21, bisnis itu makin lemah. Para juragan asing tersebut semakin terdorong karena pemerintah menyambut antusias kehadiran mereka. Tentang akan semakin bertambahnya penyerapan tenaga kerja yang diikuti bertambahnya setoran cukai ke kas negara disuarakan lagi.

Jika konsumen rokok dicermati secara teliti, ditemukan bahwa 70 persen perokok adalah masyarakat miskin. Setiap bulannya alokasi uang rumah tangga miskin untuk merokok sebesar Rp 117 ribu, yang berarti lebih besar dibandingkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang hanya sebesar Rp 100 ribu. Dengan demikian, katanya, rumah tangga miskin yang mengkonsumsi rokok cenderung mengorbankan kebutuhan pokok rumah tangganya. Separuh jumlah itu adalah para perokok anak remaja. Akibatnya, terjadilah perpindahan pendapatan dari perokok anak remaja dan orang miskin kepada industri rokok. Uangnyapun mengalir ke kantong-kantong para investor asing. Yang menyeramkan adalah munculnya berbagai penyakit yang disebabkan asap rokok yang menyusup ke rongga dada para rakyat miskin yang lemah dan kepada generasi muda penerus bangsa.

Kita sangat berharap Pemerintah AS segera meratifikasi FCTC dan mendorong Pemerintah Indonesia untuk melakukan hal yang sama
serta menekan dua perusahaan rokok AS yang membeli perusahaan rokok Indonesia untuk tidak melakukan cara-cara promosi agresif yang membidik anak-anak remaja Indonesia. Kita menyaksikan betapa industri rokok AS dan nasional gencar mensponsori konser musik dan event-event olahraga yang disukai para remaja, disamping itu ada juga yang berkedok kegiatan-kegiatan sosial atau memasang reklamenya di atas pos polisi.

Hasil penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, saat ini, Indonesia mengkonsumsi 250 miliar batang rokok per tahun.

Ini adalah jumlah terbesar ketiga setelah China dan India. Jumlah perokok Indonesia adalah separuh (46 persen) dari jumlah perokok se Asia Tenggara.

Data terakhir tentang belanja rokok pada 2005 menunjukkan, uang yang dikeluarkan masyarakat Indonesia untuk membeli rokok mencapai Rp 103,5 triliun. Padahal sebagian kecil saja dari penghematan untuk membeli rokok itu dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan generasi muda, misalnya saja dengan pemberian bea siswa untuk anak-anak berprestasi di Indonesia dll.

Sumber dari berbagai surat kabar nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: