Penjelajahan Jagat Raya

Rencana Menara Dubai 709 Meter 160 lantai

Rencana Menara Dubai 709M 160 lantai

Teori Jagat Raya sudah sangat jauh, padahal ternyata manusia bisa dikatakan baru sejengkal saja dalam menembus cakrawala. Tetapi salut kepada Lapan yang telah dapat membuat  dan menempatkan satelit Palapa-D yang diluncurkan dengan roket China.

ROBERT D McFadden dalam catatannya di harian New York Times Feb-2003, mengatakan, program ruang angkasa Amerika selama 44 tahun ibarat siklus “kemenangan dan tragedi”. Kemenangan itu berasal dari penerbangan berawak yang mengitari Bumi di awal era dan mendarat di Bulan, sementara tragedi berasal dari ledakan-ledakan yang menewaskan astronot, membumbungnya biaya dan KORUPSI, tetapi juga kembali pada kemenangan ketika wahana-wahana robot yang menjelajahi Tata Surya mencapai tempat jauh dan seiring dengan itu mereka mengirimkan ke Bumi gambar dan data mencengangkan dari dunia lain.

Periode-periode kemajuan besar dalam program angkasa luar Amerika ini meliputi Mercury, Gemini, Pioneer, Mariner, Apollo, dan tentu saja pesawat ulang-alik. Program-program itu sendiri melibatkan wacana yang kompleks, menurut McFadden mengombinasikan cita-cita kebanggaan nasional, politik Perang Dingin pada masa itu, keingintahuan manusia terhadap pengetahuan ilmiah, dan kalkulasi praktis mengenai biaya dan kelayakan.

Penyebabnya adalah ketika Amerika diguncang oleh peluncuran Sputnik I oleh Uni Soviet pada tahun 1957, peristiwa yang lalu menimbulkan ketakutan bahwa Amerika akan kalah dalam lomba ruang angkasa. Badan Ruang Angkasa Nasional (NASA) pun didirikan tahun 1958. Pada tahun 1961, Presiden John Kennedy menggariskan bahwa sebelum dekade 1960-an berakhir, Amerika harus mendaratkan warganya di Bulan, maka setelah itu fokus kegiatan antariksa adalah untuk pendaratan Bulan, meski selama masa itu NASA juga mengerjakan sejumlah program lain, seperti peluncuran satelit cuaca dan komunikasi. Program pesawat ulang-alik sendiri yang dikembangkan dengan biaya 25 milyar dollar AS lahir pada dekade 1970-an sebagai kelanjutan keberhasilan program pendaratan di Bulan.

Mungkin saja pesawat ulang-alik tidak sehebat misalnya penerbangan berawak ke Planet Mars, tetapi pesawat ulang-alik telah membuat langkah besar penerbangan angkasa. Dengan pesawat ulang-alik, penerbangan angkasa diharapkan bisa dilakukan sekali setiap pekan dan dengan biaya lebih murah dibandingkan cara sebelumnya. Ongkosnya bisa ditutup sendiri dengan menyediakan jasa peluncuran dan perbaikan satelit serta layanan lain. Sayangnya, dari sejak awal pesawat ulang-alik telah dirongrong oleh pelbagai persoalan, seperti kegagalan desain, pembengkakan biaya, penundaan, serta KORUPSI dan mismanajemen di lingkungan NASA dan kontraktornya. Kalau sampai Challenger meledak tahun 1986 dan Columbia menyusul tahun 2003, ini pun dapat dicari akar persoalannya pada unsur-unsur di atas tadi.

Ar Rahmaan 33. Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka LINTASILAH, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.

1400 tahun yll apakah ada dalam bayangan manusia bahwa langit itu bisa ditembus/dilantasi?. Dan itulah bentuk tantangan Allah kepada manusia. Dan Allah bermaksud disamping mencari kekuatan (ilmu, uang, pengaruh politik dll), pasti kelemahan-kelemahan manusia itu sendiri harus dijauhi yaitu berbagai bentuk penyelewengan diatas tadi yang menjadi penghalang seluruh kemajuan manusia di manapun di bumi.

Selain itu banyak pula problem terselubung yang puncaknya mencuat saat terjadi musibah Challenger Januari 1986. Misalnya saja, seperti dituturkan oleh kolumnis Robert MacFadden, penyelidik tragedi Challenger memperlihatkan ada cacat pada las-lasan pada roket pendorong yang ditutup-tutupi dengan sinar-X palsu. Hal itu dilakukan oleh satu subkontraktor guna mencegah munculnya biaya perbaikan. Praktik itu tak terdeteksi dan tak terkoreksi sampai auditor NASA diberi bocoran oleh mantan karyawan subkontraktor curang di atas.

Para penyelidik kemudian juga mengetahui bahwa NASA secara drastis memangkas anggaran uji keselamatan, desain, dan pengembangan, bahkan tidak melakukan uji panas dan getaran atas pesawat ulang-alik dan mesin-mesinnya. Kontraktor tidak melakukan uji suku cadang komponen, tetapi hanya melakukan uji terhadap sistem yang sudah dirakit. Selain itu, NASA juga telah memberi informasi yang keliru kepada Kongres menyangkut biaya dan jadwal, menahan dokumen, melanggar peraturan federal, serta menghamburkan milyaran dollar.

PROGRAM eksplorasi ruang angkasa Amerika akan jalan terus. Demikian penegasan Presiden George W Bush tatkala memberi pernyataan menyusul meledaknya pesawat ulang-alik Columbia tahun 2003. Inilah semangat yang sama seperti apa yang diucapkan Presiden Ronald Reagan, menyusul meledaknya pesawat ulang- alik Challenger pada Januari 1986.

PENGEMBARAAN dan penaklukan ruang angkasa memang telah menjadi salah satu MITOS bagi bangsa pionir seperti Amerika.Penemuan benua itu sekitar lima abad silam oleh Christopher Columbus, pembukaan kawasan pertambangan di Pantai Barat, tampaknya telah mendidik bangsa Amerika untuk setiap kali menemukan daerah perbatasan baru (The New Frontier).

Khususnya untuk ruang angkasa, mungkin saja yang dilihat oleh Amerika lebih daripada sekadar new frontier. Perbatasan baru ini memang harus ditaklukkan, karena satu saat nanti-setelah Bumi semakin tak lagi bisa dihuni karena lingkungan telah rusak dan tak mampu mendukung kehidupan-maka bangsa Amerika-lah yang paling siap untuk pindah ke koloni angkasa.

Dewasa ini, dengan munculnya pemberitaan tentang turis angkasa, citra yang lalu timbul adalah bahwa penerbangan angkasa telah menjadi satu hal yang rutin. Tetapi dengan apa yang terjadi pada Challenger dan terakhir Columbia, maka sampai satu saat yang dapat kita lihat sampai saat ini, penerbangan angkasa tetap harus dilihat sebagai uji coba atau eksperimental.

DALAM konteks masa depan eksplorasi ruang angkasa secara keseluruhan, wajar pula kalau muncul pertanyaan, sebenarnya akan dapatkah manusia menaklukkan antariksa? Dalam esainya di New York Times 2003, Dennis Overbye mengatakan, kalaupun bisa, hal itu harus melalui jalan sulit. Pertama-tama, ketika Matahari makin panas sehingga hidup di atas permukaan bumi makin tidak nyaman, sekitar setengah milyar tahun dari sekarang, ada kemungkinan manusia lalu mencari kehidupan di bawah laut.

Inilah yang disitir oleh buku The Life and Death of Planet Earth karya Dr Donald Brownlee seorang astronom, dan Dr Peter Ward, seorang paleontolog, keduanya dari Universitas Washington. Hidup di dalam laut tak dapat selamanya. Dalam tempo dua milyar tahun, samudera akan mendidih, mensterilkan Bumi. Kalau manusia masih ada, mereka harus meninggalkan Bumi. Dan pada saat itu pastilah mereka telah bisa melanglang ke ruang angkasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: