Humor Lagi

pohon senja hr1Calon Politikus
Pak Amin menggendong cucunya yang masih bayi dengan bangga di depan kawan-kawannya.
Pak Amin : Coba lihat sorot matanya, tangan dan kakinya serba kuat, kayaknya bakal jadi jendral ….
Pak Omen : Tangan-tangan yang cekatan begitu mah, kayaknya bakal jadi pengusaha…
Pak Amun : Celananya basah, lagi ngompol … kok senyum-senyum saja, itu mah calon POLITIKUS…..

Sama-sama Tidak Tahu
Waktu Cepot baru dua hari kerja disebuah perusahaan asing, Cepot sempat menelpon ke bagian dapur sambil berteriak, “Ambilkan gue kopi…cepat!.”
Ternyata jawaban dari balik telepon tidak kalah keras dan marahnya, “Hei… kamu salah sambung? Kamu tahu dengan siapa kamu bicara?”
“Tidak…” Cepot nyahut.
“Saya Direktur Utama di sini, saya pecat kamu nanti!”
Cepot tidak kalah gertak dan tidak kalah teriak lalu balas menyahut,
“Dan Bapak tahu siapa saya?”
“Tidak.” jawab Bossnya Cepot itu.
“Syukurlah kalau gitu” sahut Cepot cuek sambil menutup telepon.

Wasiat Mbah Jo
Mbah Jo dirawat di rumah sakit. Menurut dokter, ASMA-nya sudah kronis hingga perlu dipasangi selang Oksigen. Sudah beberapa hari dia tidak bicara dan seperti orang koma. Dikira sudah menjelang ajal, dan atas keinginan Mbah Jo juga, anaknya kemudian memanggil Pak Mudhin Pengacara-nya untuk menyusun wasiat, selagi Pak Mudhin sedang asik berdiskusi, tiba tiba Mbah Jo megap-megap tidak bisa bernafas, mukanya pucat, tangannya bergetar.

Dengan bahasa isyarat Mbah Jo minta diambilkan kertas dan alat tulis. Dengan sisa-sisa tenaganya Mbah Jo menulis surat dan diberikan ke Pak Mudhin. Lalu Pak Mudhin langsung menyimpan surat itu tanpa membacanya karena pikirnya tidak tega membaca surat wasiat tersebut di depan Mbah Jo. Tak lama kemudian Mbah Jo meninggal dunia.

Pada selamatan hari ke tujuh meninggalnya Mbah Jo, Pak Mudhin diundang untuk datang. Selesai memimpin sambutan do’a, Pak Mudhin berpidato: “Saudara-saudara sekalian, ini ada surat wasiat dari almarhum Mbah Jo yang belum sempat saya sampaikan, yang isinya pasti nasehat untuk anak cucunya semua. Mari kita sama-sama membaca suratnya”.

Pak Mudhin kemudian membaca surat tersebut, yang ternyata berbunyi: “DHIN, JANGAN BERDIRI DISITU…! JANGAN INJEK SELANG OKSIGENKU”.

3 ORANG SAKIT JIWA
3 Orang sakit jiwa sedang bersama dokter yang akan mengetes ingatan mereka. Dokter mengajukan pertanyaan sederhana kepada Dodo, “Tiga kali tiga berapa?”. “176,” jawabnya.
Dokter lalu berpaling kepada Didi,
“Berapakah tiga kali tiga?”
“Kamis,” jawab Didi.
Dokter pun kemudian bertanya kepada Dede,
“Berapa tiga kali tiga?”
“Sembilan,” jawabnya.
“Bagus sekali. Kok Anda bisa, bagaimana menghitungnya?” tanya dokter dengan semangat.
“Gampang, Kamis dikurangi 176.”

ANGKA-ANGKA
Bu Guru bertanya kepada murid-muridnya,
“Siapa yang bisa berhitung?”
Si Noel mengangkat tangan.
“Benar kamu bisa berhitung?”
“Bisa Bu. Ayah yang mengajari.”
“Baik, coba kita lihat. Setelah tiga, berapa?”
“Empat.”
“Bagus. Setelah enam?”
“Tujuh.”
“Setelah sembilan?”
“Sepuluh,” jawab si Noel.
“Bagus sekali. Rupanya ayahmu benar-benar tahu bagaimana
mengajar berhitung. Lalu setelah sepuluh?”tanya Bu Guru lagi.
Dengan senyum penuh keyakinan, si Noel menjawab, “Jack.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: