Perokok Indonesia

perokok indonesia
Tahun 2008 WHO menetapkan Indonesia sebagai negara perokok terbesar ke-3 di dunia. Lebih 60 juta perokok terjerat adiksi nikotin. Konsumsi rokok pada 2008 mencapai 240 miliar batang atau setara dengan 658 juta batang rokok perhari-nya, senilai Rp 330 miliar dibelanjakan perokok dalam satu hari. Menghabiskan Rp 180 triliun untuk biaya kesehatan akibat penyakit terkait tembakau atau 5,1 kali lipat pendapatan negara dari cukai rokok. Dan kematian akibat konsumsi rokok tercatat lebih dari 400 ribu orang per-tahun.

Data-data diatas diungkapkan oleh Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau FA Moeloek (mantan Menteri Kesehatan dan istrinya sekarang adalah calon Menteri Kesehatan 2009-2014) dalam jumpa pers di Gedung Kebangkitan Nasional Stovia, Jakarta, Minggu (11/10/2009 Kompas.com). Pemerintah Indonesia dinilai telah terjebak serta tidak memiliki visi dan kepedulian untuk melindungi rakyatnya, terutama anak dan remaja, dari bahaya rokok.

Pemerintah dinilai cenderung mengutamakan industri rokok ketimbang kesehatan rakyatnya.Lebih lanjut, Moeloek mengungkapkan, konsumsi rokok di kalangan remaja di Indonesia telah mengalami peningkatan 144 persen dalam kurun waktu

sembilan tahun (1995 hingga 2004). Berdasarkan hasil dari sebuah penelitian, sebanyak 99,7 persen anak-anak Indonesia ternyata melihat rokok dari iklan rokok di televisi, sedangkan 76,2 persen remaja melihat iklan rokok di koran dan majalah. “Lebih dari 70 persen anak Indonesia terpapar asap rokok dan menanggung resiko penyakit akibat rokok. Maka itu, pemerintah perlu mengadakan larangan total iklan rokok,” katanya.

Dan ternyata pula Mahkamah Konstitusi menolak untuk diadakannyanya larangan iklan rokok seperti yang diberitakan berikut ini : Sembilan Hakim Konstitusi membacakan secara bergantian amar putusan uji materi UU Nomor 32/2002 tentang Penyiaran pasal 46 ayat 3 yang merupakan dasar hukum iklan rokok di gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta (10/9). Majelis Hakim MK menolak seluruhnya permohonan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak, Lembaga perlindungan Anak Provinsi Jawa Barat dan dua anak Indonesia, Alfie Sekar Nadia serta Faza Ibnu Ubaydillah yang memohon adanya Larangan Iklan Rokok.(PR,11 Sept 2009 Hal 8).

Berdasarkan data dari The ASEAN Tobacco Control Report tahun 2007. “The ASEAN Tobacco Control Report Card tahun 2007 menyebutkan jumlah perokok di ASEAN mencapai 124.691 juta orang dan Indonesia menyumbang perokok terbesar, yakni, 57.563 juta orang atau sekitar 46,16 persen.

Prevalensi perokok di Indonesia kian hari semakin meningkat dan memprihatinkan. Menurut data yang diperoleh Kompas.com, peningkatan tertinggi perokok di Indonesia terjadi pada kelompok remaja umur 15-19 tahun, yaitu, dari 7,1 persen pada tahun 1995 menjadi 17,3 persen pada tahun 2004, atau naik 144 persen selama 9 tahun.

Bahkan menurut data Susenas 2006 menunjukan bahwa pengeluaran untuk membeli rokok adalah 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu (2,3 persen), 2 kali lipat pengeluaran untuk ikan (6,8 persen), dam 17 kali lipat pengeluaran membeli daging (0,7 persen)
Undang Undang Kesehatan telah disahkan pada 14 September 2009 dalam sidang Paripurna DPR RI dan pula telah ditandatangani oleh Presiden, walaupun satu ayat pada Pasal 113 yang berkaitan dengan rokok sempat hilang (dihilangkan?) ketika diperiksa oleh Sekertariat Negara untuk ditandatangani Presiden. Berikut isi lengkap Pasal 113 :
(1) Pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.
(2) Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya.
(3) Produksi, peredaran, dan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang ditetapkan.

Maka jelas tembakau disebutkan sebagai zat adiktif sebagaimana narkoba, tentu saja yang terpenting adalah pelaksanaan dari Pasal 113 tersebut secara konsisten oleh semua pihak yang terlibat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: