Tubuh Fir’aun

Tubuh Fir’aun

Al A’raaf 104 Dan Musa berkata: “Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam”

Yusuf 72 Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala raja (malik), dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.”

Beberapa studi dilakukan terhadap data yang diperoleh tentang Fir’aun dari pengembangan skrip hieroglif dan explorasi Egyptologi mempertegas bahwa apa yang dikatakan dalam dongeng-dongeng tentang Musa, dan wahyu Allah yang berhubungan dengan Mesir dan Fir’aun di dalam Al Qur’an, adalah lebih cocok bila dibandingkan dengan data nyata sejarah.

Al Qur’an merujuk penguasa Mesir pada waktu Yusuf sebagai “Malik” (penguasa, raja).

Tetapi untuk penguasa sezaman dengan Musa, Al Qur’an menggunakan kata “Firawun” (Fir’aun). Fir’aun adalah bentuk kata Ibrani dari “Per-ao” (rumah besar orang Mesir) yang menandakan istana raja, julukan yang diaplikasikan di kerajaan baru dan sebagai gelar penghormatan, untuk raja itu sendiri. Tidak pernah sebelumnya digunakan arti kata seperti ini.

Mengutip Encyclopedia Britannica: Fir’aun dihubungkan ke dalam cerita sebagai “Yang Agung” atau “Tuhan yang baik” atau “yang berdaulat” sebagai suatu penghormatan berlebihan. Sesuai dengan konsep raja yang disembah, ia adalah orang yang kudus dan sebagai lambang daripada mahkota, tahta, tongkat kekuasaan, dan menyatakan memiliki properti magis. Semburan api dari mulut naga pada mahkota adalah untuk membasmi musuh-Nya; di medan pertempuran kekuatannya adalah sepertinya ia dapat membinasakan kebanyakan musuh-musuhnya. Dia dikatakan mahakuasa dan serba maha, menjadikan keseluruhan kontrol di tangannya dan menjadikannya sebagai penyebab kesejahteraan.

Sumber informasi utama adalah informasi yang diuraikan dari huruf hieroglyf yang ditemukan. Namun, yang harus dipikirkan bahwa script ini telah tenggelam dalam keadaan dilupakan sejak abad ke-3 SM, untuk dibangkitkan lagi lama setelahnya. Tulisan hieroglif ini telah dilupakan sekitar 1000 tahun sebelum al Qur’an diturunkan dan ditafsirkan lebih dari tiga milenium setelahnya.

Al Qur’an berkaitan dengan peristiwa yang terjadi antara Fir’aun dan Musa, memberikan rincian tambahan yang ditemukan dalam Perjanjian Lama. Apa yang dikatakan tentang sihir ular dan meratanya sihir pada waktu itu, dan pernyataan Firaun tentang atribut ketuhanannya, paralel dengan informasi tentang Fir’aun yang diturunkan dari pengembangan tulisan tablet hieroglif akhir-akhir ini.

Papirus (pohon lontar) IPUWER
10: 3-6 Mesir dataran rendah hancur. Pengadilan dalam kemandekan. Apapun yang digudangkan, gandum, gandum hitam, dan ikan geese, hancur membusuk.
10: 6-3 Tanaman disia-siakan di mana-mana
2: 5-6 Bencana dan darah di mana-mana
2:10 aliran darah di sungai
3: 2 Emas dan lapis lazuli, dan perak malahit, akik dan perunggu yang menghiasi leher budak. Papirus Ipuwer – Leidon 344.

Al A’raaf 130. Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

133. Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.
Asy Syu’araa’
57. Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air,
58. dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan mulia [1]
59. demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil [2]
[1] Dengan pengejaran Fir’aun dan kaumnya untuk menyusul Musa dan Bani Israil, maka mereka telah ke luar dari negeri mereka dengan meninggalkan kerajaan, kebesaran, kemewahan dan sebagainya.
[2] Maksudnya Allah akan memberikan kepada Bani Israil kerajaan yang kuat, kerasulan dan sebagainya di negeri yang telah dijanjikan (Palestina).

Catatan yang disodorkan oleh al Qur’an tentang hukuman yang dijatuhkan kepada Fir’aun dan pengikutnya, seperti kekeringan dan bencana-bencana lainnya, dan catatan dari pohon lontar Ipuwer sudah sangat cocok satu sama lain.
Sebagai bukti dari pelanggaran yang dilakukan oleh para dinasti Fir’aun dalam penolakan terhadap kenabian Musa, Quran mengatakan bahwa banjir darah telah diramalkan (hal yang sama berlaku untuk perkembangbiakan dari belalang, kutu, dll). Dalam Papirus Ipuwer dikatakan darah yang mengalir di sungai, dan di mana-mana telah digenangi darah. (Studi yang telah dilakukan dewasa ini tampaknya menjelaskan pewarnaan merah sungai oleh keberadaan protozoa, zooplanktons, plankton laut dan plankton air tawar atau dinoflagellates. Semua organisme ini menguras oksigen di dalam air, sehingga menimbulkan pertumbuhan pesat dari bahan beracun, membunuh organisme yang hidup dan menyebabkan air sungai tidak dapat diminum).

Para peneliti telah memikirkan suatu perjalanan dari peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi dalam kaitannya dengan bencana yang dijelaskan dalam al Qur’an. Menurut catatan fiktif ini, ikan-ikan di sungai Nil binasa sebagai akibat keracunan sungai, menyebabkan Mesir kekurangan bahan pangan. Katak, yang telurnya berlipat ganda saat itu, menjajah daerah-daerah sekitarnya sebelum mereka sendiri mati keracunan. Pembusukan ikan dan katak digabungkan dengan racun air dari Nil mencemari tanah sekitarnya yang subur. Pengikisan katak menyebabkan hama seperti belalang-belalang dan kutu-kutu gandum berkembang biak: “Semua ini hanyalah hasil dari imajinasi. Kami tidak tahu persis bagaimana sesuatu terjadi karena kami tidak memiliki data yang tersedia di tangan untuk membuat kesimpulan yang sah. Namun, catatan ini mungkin memberikan kami gambaran tentangnya”.
Yunus
90. Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
91. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
92. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

Ketika ia menginsyafi dia akan mati, Fir’aun menjadi beriman. Allah tidak menerima keimanannya yang sangat terlambat itu dan mengatakan bahwa tubuhnya akan disimpan sebagai tanda bagi generasi mendatang. Pada zaman Nabi, dan untuk beberapa waktu kemudian, kami tidak dapat menebak bahwa ilmu pengetahuan yang disebut museologi akan dikembangkan untuk berlabuhnya objek nilai historis, antara lain memumikan tubuh dari para fir’aun.

Referensi al Qur’an untuk hal ini dan untuk masyarakat yang tidak peduli akan ayat-ayat Allah adalah poin-poin yang pantas diperhatikan. Banyak tanda-tanda Allah dan sebagian besar orang tidak menyadari ini. Pada saat al Qur’an diwahyukan, tubuh-tubuh semua fir’aun yang dimumi diletakkan tersembunyi di Lembah Raja-Raja di sepanjang tepian sungai Nil. Penemuan mereka berlangsung di abad ke-19. Fir’aun yang disebutkan dalam al Qur’an mungkin salah satu dari mereka, ini terjadi dalam kelompok yang diawetkan di Museum Kairo, yang terbuka untuk kunjungan umum.

Pada periode Musa adalah Rameses II dan anaknya Merneptah adalah para fir’aun yang masa hidupnya cocok. Pada tubuh Merneptah ada bekas-bekas luka yang fatal berkelahi dengan beruang. Dilaporkan bahwa tanda ini mungkin juga disebabkan karena tenggelam atau setelah pemulihan tubuhnya yang dicuci di darat untuk dimumi; orang Mesir memumikan dia seperti semua fir’aun yang lain.

Bukti yang tersedia tidak mengizinkan untuk mengambil kesimpulan yang meyakinkan tentang rincian kematiannya. Namun, tidak ada yang bertentangan antara kematian Firaun ini dengan catatan yang diberikan di dalam al Qur’an.

Penemuan tubuh Fir’aun terjadi setelah jangka waktu lebih dari 3000 tahun (1881-1898). Mempertimbangkan bahwa al Qur’an telah memprediksikan bahwa tubuh Fir’aun akan memberikan suatu tanda, orang mengira seharusnya itu telah ditemukan. Memang sesungguhnya telah ditemukan. Kapan dan bagaimana? Itu terjadi, setelah jeda waktu 3000 tahun. Apa yang terjadi itu telah diprediksi oleh al Qur’an. “… Sesungguhnya, banyak orang yang lalai dari ayat-ayat Kami.”

Al A’raf (7)
-Ayat 179-
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Kedatangan azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat- ayat-Nya dengan cara istidraj [***].
________________________________________
[***] Yaitu: dengan membiarkan orang itu bergelimang dalam kesesatannya, hingga orang itu tidak sadar bahwa dia didekatkan secara berangsur-angsur kepada kebinasaan.

Dari ANCIENT EGYPT AND THE PHARAOH’S BODY dari Quranic Research Group.
Pada tahun 1799, kegembiraan besar terjadi di kalangan sejarawan dan pakar lainnya, rahasia hiroglif Mesir kuno terpecahkan melalui penemuan sebuah prasasti yang disebut “Batu Rosetta.” Penemuan mengejutkan ini berasal dari tahun 196 SM. Nilai penting prasasti ini adalah ditulisnya prasasti tersebut dalam tiga bentuk tulisan: hiroglif, demotik (bentuk sederhana tulisan tangan bersambung Mesir kuno) dan Yunani. Dengan bantuan naskah Yunani, tulisan Mesir kuno diterjemahkan. Penerjemahan prasasti ini diselesaikan oleh orang Prancis bernama Jean-Françoise Champollion. Dengan demikian, sebuah bahasa yang telah terlupakan dan aneka peristiwa yang dikisahkannya terungkap. Dengan cara ini, banyak pengetahuan tentang peradaban, agama dan kehidupan masyarakat Mesir kuno menjadi tersedia bagi umat manusia dan hal ini membuka jalan kepada pengetahuan yang lebih banyak tentang babak penting dalam sejarah umat manusia ini.
Melalui penerjemahan hiroglif, sebuah pengetahuan penting tersingkap: nama “Haman” benar-benar disebut dalam prasasti-prasasti Mesir. Nama ini tercantum pada sebuah tugu di Museum Hof di Wina. Tulisan yang sama ini juga menyebutkan hubungan dekat antara Haman dan Fir’aun. 1
Dalam kamus People in the New Kingdom , yang disusun berdasarkan keseluruhan kumpulan prasasti tersebut, Haman disebut sebagai “pemimpin para pekerja batu pahat”. 2Anehnya, nama “Haman” tidak pernah disebutkan dalam bagian-bagian Taurat yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Musa AS. Tetapi, penyebutan Haman dapat ditemukan di bab-bab terakhir Perjanjian Lama sebagai pembantu raja Babilonia yang melakukan banyak kekejaman terhadap Bani Israil kira-kira 1.100 tahun setelah Nabi Musa AS. Al Qur’an, yang jauh lebih bersesuaian dengan penemuan-penemuan kepurbakalaan masa kini, benar-benar memuat kata “Haman” yang merujuk pada masa hidup Nabi Musa AS.
Temuan ini mengungkap kebenaran sangat penting: Berbeda dengan pernyataan keliru para penentang Al Qur’an, Haman adalah seseorang yang hidup di Mesir pada zaman Nabi Musa AS. Ia dekat dengan Fir’aun dan terlibat dalam pekerjaan membuat bangunan, persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur’an.
Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (QS. Al Qashas, 28:38)
Ayat dalam Al Qur’an tersebut yang mengisahkan peristiwa di mana Fir’aun meminta Haman mendirikan menara bersesuaian sempurna dengan penemuan purbakala ini. Melalui penemuan luar biasa ini, sanggahan-sanggahan tak beralasan dari para penentang Al Qur’an terbukti keliru dan tidak bernilai intelektual.
Secara menakjubkan, Al Qur’an menyampaikan kepada kita pengetahuan sejarah yang tak mungkin dimiliki atau diketahui di masa Nabi Muhammad SAW. Hiroglif tidak mampu dipecahkan hingga akhir tahun 1700-an sehingga pengetahuan tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya di masa itu dari sumber-sumber Mesir. Ketika nama “Haman” ditemukan dalam prasasti-prasasti kuno tersebut, ini menjadi bukti lagi bagi kebenaran mutlak Firman Allah.

1. Walter Wreszinski, Aegyptische Inschriften aus dem K.K. Hof Museum in Wien, 1906, J. C. Hinrichs’ sche Buchhandlung
2. Hermann Ranke, Die Ägyptischen Personennamen, Verzeichnis der Namen, Verlag Von J. J. Augustin in Glückstadt, Band I, 1935, Band II, 1952

Sumber tulisan dari;
Dari ANCIENT EGYPT AND THE PHARAOH’S BODY dari Quranic Research Group.
Dan http;//www.harunyahya.com/indo/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: