HIKAYAT IBLIS 1826

Hikayat Iblis ini adalah karya tulis ulama kita yang tidak diketahui namanya pada tahun 1826, didapatkan dari manuskrip koleksi mantan Komisaris Jendral Hindia Belanda yaitu  L.P.G. du Bus de Gisignies.

Al kisah tersebut kisah Hikayat Iblis
Bismillahi Rahman Rahim
Wabihi Nastainu Billahi Ta’ala
Ini Hikayat Iblis Laqnat

Maka bersabda kepada Rasulullah s.a.w segala persetua turun Malaikat Jibrail kepada Iblis dengan firman Allah Ta’ala :
Maka ujar malaikat, “Hai Iblis ! Pergilah engkau kepada Nabi Allah Muhammad Rasulullah s.a.w dengan firman Allah Ta’ala. Apabila engkau sampai kepada Rasulullah s.a.w, jika Nabi Allah bertanya kepada mu dengan suatu tanya, maka sahuti oleh mu dengan kata sebenar-benarnya. Dan jikalau kamu berdusta kepada Rasulullah s.a.w daripada suatu tanya oleh Nabi Allah itu atau dengan sepatah kata daripada barang siapa bagi juga engkau berdusta, nescaya diputuskan segala urat mu, ku hancurkan segala tubuhmu, ku jadikan seperti habuk.”

Setelah Iblis mendengarkan Malaikat, segera ia pergilah kepada Rasulullah s.a.w. Maka iapun memberi salam, ujarnya, “Assalamualaikum ya Rasulullah.”
Maka salamnya itupun tiada disahuti oleh Rasulullah.
Maka sabda Rasulullah s.a.w, “Siapa engkau ?”
Maka sahut Iblis, “Hamba seorang daripada hamba Allah yang bernama Hakir.”
Maka ia itu pun duduk dengan hormatnya mengadap kepada Rasulullah. Rupanya seperti darwish fakir, peri lakunya itu seperti orang tua dan matanya buta sebelah dan helai janggutnya itupun adalah seperti helai dan panjangnya ekor kuda.
Maka ujarnya Iblis, “Ya Rasulullah, bahwa salam itu rahmat Allah, mengapa maka tiada tuan hamba sahuti ?”
Maka sabda Rasulullah, “Sebenarnyalah katamu itu, tetapi rahmat Allah Ta’ala telah diharamkan Allah atasmu sekalian. Engkau seteru Allah yang kena akan laqnatnya. Apakah engkau datang ini kepada aku ?”
Maka ujar Iblis, “Ya Rasulullah, pada hari ini datang seorang Malaikat kepada hamba dengan firman Allah Ta’ala, demikian katanya : “Hai Iblis ! Pergilah engkau kepada Nabi Allah Muhammad Rasulullah maka segala Nabi Allah Muhammad. Maka sahuti olehmu dengan kata sebenarnya dan jangan engkau berdusta. Jikalau engkau berdusta nescaya segala uratmu diputuskan dan bahwasanya tubuhmu pun ku hancurkan menjadi habuk.” Demikian katanya Malaikat kepada hamba, ya Rasulullah.”
Maka Rasulullah pun tersenyum-senyum mendengarkan Iblis itu.

Maka sabda Rasulullah, “Hai Iblis ! Ku bertanya kepada mu, siapakah engkau punya seteru yang terlebih kepada mu ?”
Maka ujarnya, “Ya Rasulullah, tuan hambalah yang terlebih daripada seteru ku kerana bahwasanya tatakala tuan hamba belum dzahir, maka segala manusia mahu ia menurut kataku
lagi.”
Maka sabda Rasulullah, “Hamba lain daripada aku, siapa lagi seteru mu ?”
Maka ujarnya Iblis, “Segala orang yang muda-muda yang menahani hatinya daripada takut kepada Allah Ta’ala seperti dengan amalnya yang salih dengan sentiasa berhadap kepada Tuhan serusekalian alam juga. Itulah seteru hamba.”
Maka sabda Rasulullah, “Adalagi lain daripada itu, siapa seteru mu ?”
Maka sembah Iblis, “Iaitu segala raja-raja yang adil.”
Maka sabda Rasulullah, “Apa sebabnya demikian itu ?”
Maka sembahnya Iblis, “Bahwa raja-raja itu kepada sehari-hari ia menghukumkan segala manusia yang tiada mahu menurut kata ku lagi.”

Maka sabda Rasulullah, “Daripada itu, siapa lagi seteru mu ?”
Maka sembahnya Iblis, “Lagi segala fakir yang sabar.”
Maka sabda Rasulullah, “Apa sebabnya demikian itu kepada mu ? “
Maka sembahnya, “Segala barang hajat ku, tiada diqabulkan, menjadi ia putus harap ku.”
Maka sabda Rasulullah, “Lain daripada itu siapa lagi seteru mu ?”
Maka sembahnya Iblis, “Itu segala orang kaya-kaya yang murah hati, dikeluarkannya hak AllahTa’ala daripada hartanya yang halal.”
Maka sabda Rasulullah, “Apa sebabnya demikian itu ?”
Maka sembah Iblis, “Apabila datang fakir dan miskin kepadanya, maka segala fakir itu meminta doa akan dia.”
Maka sabda Rasulullah, “Lain daripada itu siapa lagi seteru mu ?”
Maka sembah Iblis itu, “Segala ulamak yang menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram dan mengamalkan ilmunya kepada orang yang dungu.”
Maka sabda Rasulullah, “Apa sebabnya demikian itu ?”
Maka sembahnya Iblis, “Ya Nabi Allah, adapun segala ulamak itu pagi dan petang dan senantiasa ia berbuat dengan ibadat kepada Allah dan menunjukki segala manusia kepada jalan yang sebenarnya. Nescaya mereka itu tiada dapat ku perintah lagi.”

Maka sabda Rasulullah, “Lain daripada itu, siapa lagi seteru mu ?”
Maka sembahnya Iblis, “Itulah segala mukmin yang adzan pada tiap-tiap waktu.”
Maka sabda Rasulullah, “Apa sebabnya yang demikian itu ?”
Maka sembahnya Iblis itu, “Ya Nabi Allah, apabila hamba menyuruh kepada jalan yang dusta, maka ia menyuruh kepada jalan yang sebenar, maka segala ia menyebut “Allahu Akbar”, maka orang itulah lepas daripada tangan hamba.”

Maka sabda Rasulullah, “Lain daripada itu, siapa lagi seteru mu ? ”
Maka sembahnya Iblis, “Segala orang yang telah senantiasa ia didalam air sembahyang serta ingat akan dia waktunya, itulah memberi penyakit kepada hamba.”
Maka sabda Rasullalllah, “Hai Malaun, apabila umatku berdiri sembahyang betapa halmu ?”
Maka sembahnya Iblis, “Ya Nabi Allah, lemahlah segala anggota hamba dan gementar segala sendiku.”
Maka sabda Rasulullah, “Apabila umatku membaca Al-Quran, betapa rasanya ?”
Maka sembahnya Iblis, “Hancurlah rasanya tubuh hamba ya Rasulullah.”
Maka sabda Rasulullah, “Apabila umatku naik Haji, betapa halmu ?”
Maka sembahnya Iblis, “Ketika itu lelah lentuklah rasanya hatiku.”
Maka sabda Rasulullah, “Apabila Puasa betapa rasanya halmu ?”
Maka sembahnya Iblis, “Pada ketika itu adalah seperti digelang oranglah mulutku.”

Maka sabda Rasulullah, “Apabila umatku memberi sedekah betapa halmu ?”
Maka sembahnya Iblis, “Adapun pada ketika itu adalah seperti dipenggal-penggallah segala
badanku demikian sakitnya ya Nabi Allah, kerana sedekah itu tujuh perkara faedahnya :

Pertama, qabulkan Allah dengannya dan
Kedua dilanjutkan Allah umurnya dan
Ketiga ditambahi Allah berkatnya orang itu dan
Keempat diluputkan Allah daripada segala bahaya dan
Kelima didindingi Allah daripada api Neraka dan
Keenam dimasukkan Allah ia kepada kaum yang salih dan
Ketujuh ditambahi hamba Allah cahayanya kepada hari Qiamat.”

Maka Rasulullah tersenyum  mendengar kata-kata Iblis itu.

bersambung…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: