ARTI KEBAHAGIAAN

“Our business is to be happy.” – Dalai Lama
“The purpose of our lives is to be happy. Happiness is not something ready made. It comes from your own actions.”- Dalai Lama

Berbicara tentang kebahagiaan, apakah anda sudah benar-benar memahami arti dan maknanya? Kita banyak menggunakan kata-kata seperti bahagia, nikmat, senang, tawa, kepuasan dan lain sebagainya. Apa perbedaaannya? Nikmat, senang, tawa, rasa puas itu bisa dinyalakan dan dimatikan, tetapi kebahagiaan itu selalu ada – walaupun kita sedang merasakan emosi-emosi yang lain.

Happiness is a condition of my being – it stays with me while I am experiencing emotions. Pola pemikiran yang salah tentang kebahagiaan adalah anggapan-anggapan seperti:

• Saya akan bahagia ketika saya punya usaha lebih besar
• Saya akan bahagia ketika saya punya rumah mewah
• Saya akan bahagia ketika saya menemukan wanita idaman
• Saya akan bahagia ketika saya memiliki teman yang kaya
• Saya akan bahagia ketika saya lebih langsing
• Saya akan bahagia ketika saya tinggal di luar negeri
• Dll.

Kita sering mempertalikan kebahagiaan dengan hal-hal eksternal, yaitu dengan sesuatu yang datang dari luar diri kita sendiri.

Dalam bukunya ‘Happy for No Reason’, Marci Schimoff menjelaskan sebuah kontinuum kebahagiaan:

DARI FAKTOR EKSTERNAL
Happy for Band Reason (Bahagia karena alasan yang tidak sehat)
Bahagia karena ketergantungan obat, alkohol, melihat orang lain menderita, dll.
Happy for Good Reasons (Bahagia karena alasan yang sehat)
Bahagia karena pekerjaan, keluarga, teman maupun kesehatan yang baik

DARI FAKTOR INTERNAL
Happy for No Reason (Bahagia tanpa alasan apapun)
Rasa nyaman dan tentram terhadap diri sendiri dan situasi (Inner state of peace & well-being)

Jadi, ketika kita bahagia maka pikiran dan jiwa kita itu tenang. Bahwa kebahagiaan itu datang dari dalam diri kita dan bukan dari luar diri kita sendiri. Bahwa kita hidup bukan untuk kebahagiaan, tetapi hidup dari kebahagiaan. Ini mungkin sebabnya 94% dari kita memiliki tekanan jiwa (baik ringan maupun berat), karena kita belum memahami dengan benar konsep dan arti dari kebahagiaan itu sendiri. Kita masih sangat bergantung dengan hal-hal eksternal untuk membuat kita bahagia. Ketika kita sadar bahwa kebahagiaan itu datang dari dalam, maka kita memiliki kontrol dan tanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri. Belajar untuk memiliki rasa tanggung jawab untuk membuat diri kita sendiri bahagia menjadi sebuah aset dan kapasitas yang sangat besar nilainya baik untuk individu itu sendiri tetapi juga untuk organisasi tersebut. Bayangkan bagaimana kinerja perusahaan Anda ketika setiap orang dari staf Anda bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka sendiri dan kemudian menjadi orang-orang yang bahagia?

Orang-orang yang ‘bahagia’ bukan orang-orang yang tidak memiliki masalah, tantangan maupun kesedihan, tetapi mereka memiliki cara pandang dan kebiasaan-kebiasaan tertentu yang membuat hal-hal tersebut mudah diatasi dan tidak mengganggu kualitas hidupnya. Ketika mewawancarai 100 orang yang ‘bahagia tanpa alasan apapun’, Marci Schimoff menemukan bahwa walaupun orang tersebut menghadapi kanker, anaknya yang baru dibunuh, suami yang pemabuk ataupun lumpuh pun bisa ‘bahagia’. Tidak hanya itu, merekapun sangat berkontribusi dan bermanfaat bagi lingkungannya. Inilah ketika mereka menjadi manusia-manusia yang paling produktif, karena mereka tidak hanya hanya ‘bahagia’ tetapi juga fokus kepada suatu tujuan.

Huud (11) -Ayat 10-
Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga,

Dr. M. Taqiud-Din & Dr. M. Khan:
But if We let him taste good (favour) after evil (poverty and harm) has touched him, he is sure to say: “Ills have departed from me.” Surely, he is exultant, and boastful (ungrateful to Allah).
Yusuf Ali:
But if We give him a taste of (Our) favours after adversity hath touched him, he is sure to say, “All evil has departed from me:” Behold! he falls into exultation and pride.

Al An’am (6) -Ayat 104-
Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu) ***, maka (manfa’atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).

*** Maksudnya ialah barangsiapa mengetahui kebenaran dan mengerjakan amal saleh, serta memperoleh petunjuk, maka dia telah mencapai PUNCAK KEBAHAGIAAN.

Sumber tulisan :
Dari Synergy Service Solution, Salafydb dan tafsir Depag.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: