KEYAKINAN PENERBANG

Setelah Papa lulus dari sekolah penerbangan Perancis, beliau menikah dengan mamaku. Papa seorang penerbang kulit hitam, namanya Charles Jacquet, mamaku seorang kulit putih, namanya Isabell Louvrett. Keluargaku cukup demokratis, oleh karena itu, bagi Papa, pernikahan tidak memandang perbedaan kulit.

Cara berpikir itu pula yang mendorong Papa untuk pindah ke Amerika. Baginya dunia itu luas, di manapun kita berada, asal mau berusaha, pasti kita menjadi seseorang. Oleh karena itu kami pindah kePortland. Papa ditawari menjadi penerbang di suatu perusahaan. Disanabeliau menjadi penerbang pesawat Air Bus dan menerbangkan pesawat ke banyak wilayah di Amerika.

Papa mempunyai sebuah cita-cita menjadi penerbang pesawat jet, sebuah pesawat yang sangat dicintainya. Kecepatannnya luar biasa, mach2, selain itu bodinya sempurna. Pesawat kebanggaan Amerika ini menjadi cita-cita papaku. yaitu F-16.

“Voir ma dear, lihat sayang,” Ujar Papa suatu kali di pangkalan pesawat terbang, tempatnya bekerja. Beliau menunjuk ke sebuah pesawat indah.  Itulah F-16. “Suatu hari, Papa akan menjadi penerbang-nya , begitu pula dengan kamu ma pouppette.”

Saat itulah aku tahu, betapa tingginya cita-cita Papa. Beliau bukan berasal sekolah militer, dan bukan warga negara asli Amerika. Hampir tidak mungkin baginya untuk menjadi penerbang AU Amerika. Tapi cita-cita itu tetap dipegangnya dengan teguh dalam hati. Ya, cita-cita menjadi penerbang F16.

 ***

“Siapa Tuhanmu, Anna?” Pertanyaan Papa yang aneh dan tidak biasa itu mengejutkanku. Papa belum pernah bertanya seperti itu, bahkan menyinggung-nyinggung hal itu pun jarang. Iya, kami merayakan natal setiap tahun, seperti orang lain. Setiap Paskah selalu ada ayam kalkun di meja makan. Terkadang kami ke gereja, di rumahku juga ada Bible.

“Terakhir dear, apa kamu percaya Tuhan?” Saat itu,bagaikan sekelilingku benar-benar sunyi senyap. Aku teringat betapa indah semua pertanyaan yang pernah kualami. Melihat bintang-bintang di planetarium, alam Perancis yang luar biasa, bukan hanya itu, segala sesuatu yang pernah kulihat selama ini pasti ada yang membuat. Di pelajaran Biologi di sekolah, benda hidup tidak mungkin berasal dari benda mati. Kalau begitu, pasti segala sesuatu ini ada yang meciptakan, dan itu adalah…

“Ya, Papa. I believe in God.” Kedua orang tuaku tesenyum. Damai sekali dalam keyakinan kami yang baru yaitu ISLAM.

Tapi ada satu hal yang terberat. Saat Mama menceritakan keislamannya kepada orangtuanya, Grandma terutama, marah besar. Saat mama berbicara di telepon, air matanya tumpah. Lalu tiba-tiba ia diam, kemudian memanggil-manggil,  “Mama, oh Mama, mama.” Teleponnya diputuskan. Mama hanya bisa bersandar di dada Papa sambil menangis. Papa terus berkata, “Actually God is with whom is patient, Ma Cherie. He is. He is.

***

Setahun berlalu, tiba-tiba di negara bagian ini muncul desas-desus mengerikan. Kabarnya orang-orang kulit hitam banyak yang tiba-tiba menghilang. Banyak yang mengatakan bahwa mereka menjadi korban penculikan sekte-sekte fanatik ras kulit putih. Polisi, FBI, sudah diturunkan ke berbagai kota, tapi hasilnya secara konkret belum juga muncul. Papa sangat khawatir.

Situasi benar-benar gawat. Sudah beberapa mayat yang hilang dapat ditemukan, dengan kondisi memilukan. Para maniak itu bahkan selalu meninggalkan pesan mengerikan, bahwa tidak jarang jorok, ‘Die you Negros!, atau ‘Pig’s skin ever better than yours!” dan banyak lagi. Perlindungan bagi kaum kulit hitam dari Harlem, memberitakan bahwa kemarin ditemukan mayat seorang pastur kulit hitam. Aku menjadi sangat khawatir dengan Papa.

Sampai hari itu. Hari dimana semua kebahagiaanku direnggut. Papa sedang berkendaraan dari kota. Kami sedang dalam pejalanan pulang. Karena ada pemblokiran jalan, kami terpaksa lewat jalan kecil. Malam itu sepi sekali.

Tiba-tiba di tengah jalan, terdengar bunyi tembakan. Papa cepat-cepat mengerem. Ternyata ban kami pecah. Lalu, muncul orang-orang bertudung putih, berjalan mendekat sambil membawa obor dan senjata. Pakaian mereka putih, dengan lambang salib terbalik. Aku ketakutan, Mama juga, tapi Papa memegang tangan kami sambil terus berkata, “Ingat, apapun yang terjadi, Allah selalu bersama kita, Macherie.”

Mereka menyuruh kami turun dari mobil. Kalau tidak, mereka mengancam kepala kami akan ditembak. Papa menurut. Lalu kami digiring ke dalam hutan, perjalanannya cukup jauh, aku ingin menangis, tapi aku percaya, aku harus kuat.

***

“Ingat cita-cita Papa, pouppete, jadi penerbang F-16, burung besi kecintaan Papa. Wujudkan cita-cita Papa, Noubliez pas! J’etaime, J’etaime Isabell, J’etaime Anna!”

“J’etaime Papa! J’etaime”

“J’etaime Charles! J’etaime Mama dan aku lalu pergi berlari. Aku memimpin mengikuti arah bintang, semak-semak belukar yang melukai kakiku, tidak kuingat lagi. Pardoner Papa!

Aku tidak ingat lagi ketika tiba di tempat pemblokiran polisi bagaimana kami menjelaskan kejadiannya, lalu masuk ke hutan dengan polisi. Aku tidak ingat bagaimana para biadab itu terkepung. Aku bermimpi, di suatu tempat, putih, dan halus. Papa!

“Kami berterima kasih,” tiba-tiba seorang berkulit hitam berbicara. Wajahnya sedih sekali,” Papamu telah menyelamatkan hidupku. Dia melindungiku dari tembakan biadab-biadab itu. Papamu tidak menderita, dia pergi dengan senyum di wajahnya. Dia teus mengucap ‘Allah…Allah’, dan dia sempat meninggalkan pesan untukmu,” Anna, ma pouppete, jaga mamamu. Ingat cita-cita dan keyakinan Papa.  Preir to Dioer, J’etaime…” aku menangis, Mama juga.

Papa kini telah pergi, diatas keyakinan-nya ke tempat yang jauh lebih baik. Wait for me, Papa. I’ll make your dreams come true. J’etamine..

***

Papa mendapat gelar kehormatan dari pemerintah AS. Hidup Mama dan aku mendapat tunjangan, dan aku mendapat beasiswa. Aku melanjutkan ke sekolah militer. Mama, dengan tabah, membangun kembali dirinya. Beliau mengajar sastra Perancis di universitas-universitas Portland dan Seattle. Mama juga aktif mendakwahkan Islam di berbagai tempat.

 Perlahan kami membangun kembali keluarga kami, Grandma bahkan memaafkan Mama dan memutuskan untuk pindah ke Amerika untuk membantu Mama. Namun dengan halus Mama menolak. Katanya, “I can raise my own child, trust me momm.”

***

Mesin pesawat berbunyi halus. Sayap F-16 yang kokoh ini membawaku terbang ke angkasa. Hari ini, Anna Marie Fatimah Jacquet, penerbang muslimah pertama, mewujudkan cita-cita dan keyakinan Papa. Terus membumbung tinggi ke langit yang dicintai Papa. A’toute a I’houre Papa. Sampai kita bertemu kembali….( Nur)

Harlem: tempat perkampungan orang-orang negro

N’oubliez pas: jangan lupa

A’toute I’houre: selamat tinggal

J’etaime: aku mencintaimu

Chest la vie: inilah hidup

Sumber dari E-mail,

From: Chamirianto, Djoko

Sent: Tuesday, August 20, 2002 8:45 AM

Subject: Good Story- SUBHANALLAH

Tulisan dari Ulfah Mardhiah Siregar

Annida No.21/XI

2 Tanggapan

  1. Plot cerita tahun berapa ini? kelompok rasis tudung putih masih ekstrim membantai orang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: