Cinta Sukarno Muda

Seorang pemuda tampan senantiasa mempunyai kawan gadis-gadis yang tetap. Aku punja banyak. Mereka bahkan memuja gigiku yang tidak rata. Dan aku-mengakui bahwa aku sengaja mengejar gadis gadis kulit putih.

Cintaku jang pertama adalah PauIine Gobee, anak salah seorang guruku. Dia memang cantik dan aku tergila-gila kepadanya. Kemudian menyusul Laura. Oo, betapa aku memujanya. Dan ada lagi keluarga Raat. Mereka ini keluarga Indo dan mempunjai beberapa orang puteri ayu. H.B.S. letaknya diarah yang berlawanan dengan rumah keluarga Raat, tapi sekalipun demikian setiap hari selama berbulan-bulan aku mengambil jalan keliling, hanya untuk lewat dimuka rumahnya dan untuk menangkap selintas pandangannya.

Dekat itu terdapat Depot Tiga, warung tempat minum. Aku kadang-kadang diajak oleh salahseorang kawan kesana dan disanalah kami dapat duduk dengan gembira dan memandangi gadis-gadis Belanda lalu. Kemudian bagai suatu cahaya yang bersinar dalam gelap, muncullah Mien Hessels dalam kehidupanku.

Hilanglah Laura, lenyaplah keluarga Raat dari ingatan dan lenyap pulalah kegembiraan Depot Tiga. Sekarang aku punya Mien Hessels. Dia sama sekali milikku dan aku sangat tergila-gila kepada kembang tulip berambut kuning dan pipinya yang merah mawar itu. Aku rela mati untuknya kalau dia menghendakinya.

Umurku baru 18 tahun dan tidak ada yang lebih kuinginkan dari kehidupanku ini selain daripada memiliki jiwa dan raga Mien Hessels. Aku mengharapkannya dengan perasasn berahi dan sampailah aku pada suatu kesungguhan hati, aku harus mengawininya. Tak satupun yang dapat memadamkan api yang sedang bergolak dalam diriku.

Ia adalah bagai kembang-gula diatas kue yang takkan dapat kubeli. Kulitnja lembut bagai kapas, rambutnya ikal dan pribadinya memenuhi segala-galanya yang kuidamkan. Untuk dapat merangkulkan tanganku memeluk Mien Hessels nilainya lebih dari segala harta bagiku.

Achirnya aku memberanikan diri untuk berbitjara kepada bapaknya. Aku mengenakan pakaian yang terbaik, dan memakai sepatu. Sambil duduk dikamarku yang gelap aku melatih kata-kata yang akan kuutjapkan dihadapannya. Akan tetapi pada waktu aku mendekati rumah yang bagus itu aku menggigil oleh perasaan takut.

Aku tak pernah sebelumnya bertamu kerumah seperti ini. Pekarangannya menghidau seperti beludru. Kembang-kembang berseri tegak baris demi baris, lurus dan tinggi bagai prajurit. Aku tidak punya topi untuk dipegang, karena itu sebagai gantinya aku memegang hatiku. Dan disanaIah aku berdiri, gemetar, dihadapan bapak dari puteri gadingku, seorang yang tinggi seperti menara yang memandang kebawah langsung kepadaku seperti aku ini dipandang sebagai kutu diatas tanah.

,,Tuan,” kataku. ,,Kalau tuan tidak berkeberatan, saya ingin minta anak tuan.” ,,Kamu? Inlander kotor, seperti kamu ? sembur tuan Hessels, ,,Kenapa kamu berani-beranian mendekati anakku ? Keluar, kamu binatang kotor. Keluar !”

Dapatkah orang membayangkan betapa aku merasa seperti didera dengan cambuk ? Dapatkah kiranya orang percaja, bahwa noda yang dicorengkan dimukaku ini pada satu saat akan pupus samasekali ? Sakitnya adalah sedemikian, sehingga disaat itu aku berpikir, ,,ya Tuhan, aku tak akan dapat melupakan ini.” Dan djauh dalam lubukhatiku aku merasa pasti, bahwa aku tidak akan dapat melupakan dewiku yang berparas bidadari itu, Mien Hessels.

23 tahun kemudian, jaitu tahun 1942. Djaman perang. Aku sedang melihat-lihat etalase pada salah satu toko pakaian laki-laki disuatu jalanan Jakarta, ketika aku mendengar suara dibelakangku, ,,Sukarno ?”

Aku berpaling memandangi seorang wanita asing, ,, Ya, saya Sukarno. “Dia tertawa terkikik-kikik, ,,Dapat kau menerka siapa saya ini ?”Kuperhatikan dia dengan saksama. Dia seorang nyonya tua dan gemuk. Jelek, badannya tidak terpelihara. Dan aku menjawab, ,,Tidak, nyonya. Saya tidak dapat menerka. Siapakah Nyonya ?”,,Mien Hessels,” dia terkikik lagi. Huhhhh ! Mien Hessels ! Puteriku jang cantik seperti bidadari sudah berobah menjadi perempuan seperti tukang sihir.

Tak pernah aku melihat perempuan yang buruk dan kotor seperti ini. Mengapa dia membiarkan dirinya sampai begitu. Dengan cepat aku memberi salam kepadanya, lalu meneruskan perjalananku. Aku bersyukur dan memuji kepada Tuhan Yang Maha-Penyayang karena telah melindungiku.

Caci-maki yang telah dilontarkan bapaknya kepadaku sesungguhnya adalah suatu rahmat yang tersembunyi. Kalau dipikir-pikir, tentu aku takkan bisa lepas dari perempuan ini. Aku bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan jang telah-diberikanNya. Huhhh, orang apa itu !

dari e-book BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA Halaman 25 dari 109

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: