Injil Injil Yang Sekarang

Konsili Vatikan II dalam penyusunan dogmatik tentang Wahyu, yaitu penyusunan yang dikerjakan antara tahun 1962 dan tahun 1965 menerangkan; Di mana saja dan kapan saja, Gereja selalu mempertahankan bahwa empat Injil itu berasal dari para Rasul (sahabat Isa). Injil-Injil itu adalah apa yang telah diceramahkan oleh para Rasul dengan mengikuti perintah Yesus. Oleh karena itu maka para Rasul dan orang-orang yang selalu dekat dengan mereka, telah mendapat inspirasi suci dari Ruhul Kudus dan meriwayatkan tulisan-tulisan yang merupakan dasar kepercayaan Kristen pada Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yahya.

Ibu Suci (Gereja) selalu berpegang dengan kuat bahwa empat Injil yang diberi sifat bersejarah telah menyampaikan dengan penuh amanat segala apa yang diperbuat dan diajarkan oleh Yesus, putra Tuhan, selama ia hidup di antara manusia sampai ia diangkat ke langit. Para pengarang suci kemudian menyusun Injil empat yang memberikan kepada kita segala yang benar dan jujur mengenai Yesus.

Kata-kata yang kita kutip daripada Konsili Vatikan II itu menunjukkan secara tegas keyakinan bahwa Injil telah meriwayatkan perbuatan dan perkataan Yesus. Akan tetapi kita merasakan ketidakserasian antara pernyataan Konsili tersebut dengan pernyataan pengarang-pengarang berikut ini, khususnya kata kata R.P. Kannengiesser: “Kita tidak boleh memahami Injil-lnjil secara harafiah, oleh karena Injil itu merupakan tulisan-tulisan daripada keadaan-keadaan tertentu atau tulisan-tulisan perjuangan yang penulis-penulisnya memelihara tradisi masyarakat mereka mengenai Yesus dengan tulisan.

“Injil-Injil adalah teks-teks yang menyesuaikan diri dengan bermacam-macam lingkungan, memenuhi kebutuhan-kebutuhan Gereja, melontarkan pikiran-pikiran mengenai Kitab suci, membetulkan kesalahan-kesalahan dan menjawab argumentasi lawan. Dengan begitu, Injil-injil mengumpulkan dan menuliskan apa yang mereka terima dari tradisi lisan, menurut pandangan-pandangan pribadi mereka.” (Terjemahan Ekumenik dari Injil). Nyata sekali hahwa antara deklarasi Konsili Vatikan dan sikap-sikap yang lebih baru terdapat kontradiksi.

Tidak mungkin untuk menyesuaikan deklarasi Vatikan II yang mengatakan bahwa dalam Injil, kita menemukan riwayat yang jujur tentang perbuatan dan perkataan Yesus, dengan adanya kontradiksi, kekeliruan, kemustahilan material dan pemberitaan yang bertentangan dengan realitas ilmiah yang sudah pasti.

Sebaliknya, jika kita memandang Injil sebagai ekspresi dari pandangan-pandangan pribadi dari orang-orang yang mengumpulkan tradisi-tradisi lisan yang terdapat dalam bermacam-macam kelompok, kita tidak merasa heran jika kita menemukan dalam Injil-Injil itu keterangan-keterangan yang menunjukkan bahwa Injil-lnjil tersebut ditulis oleh orang-orang dalam suasana yang telah kita terangkan di atas. Mereka itu dapat saja merupakan orang-orang yang sangat jujur walaupun mereka itu meriwayatkan hal-hal yang memuat kontradiksi dengan pengarang-pengarang lain karena mereka sendiri tak pernah merasa curiga akan kebenarannya, atau mungkin sekali karena ada persaingan keagamaan antara dua kelompok, mereka itu menyajikan riwayat kehidupan Yesus menurut kaca mata yang sangat berlainan dengan kaca mata lawannya.

Kita telah membaca bahwa konteks sejarah adalah sesuai dengan cara memandang Injil seperti tersebut. Bahan-bahan untuk menyelidiki Injil yang kita miliki semua menguatkan pandangan semacam itu.

Kesan umum tentang Injil yang kita dapatkan dari penyelidikan kritis terhadap teks adalah bahwa Injil-injil “merupakan literatur yang kurang sempurna penyusunan-nya,” “yang tidak menunjukkan kontinuitas” dan “yang menunjukkan kontradiksi-kontradiksi yang tak dapat diatasi.” Penilaian tersebut kita pinjam dari Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, suatu buku yang penting sekali untuk kita jadikan referensi, oleh karena penilaian soal ini mempunyai akibat yang gawat. Penyelidikan-penyelidikan yang lebih modern tentang kritik teks terhadap sumber-sumber Injil menunjukkan bahwa tersusunnya teks-teks tersebut telah melalui proses yang lebih kompleks.

La Synopse des quatre Evangiles (ringkasan Injil empat) karangan R.P. Benoit dan R.P. Boismard, guru-guru besar sekolah Bibel di Yerusalem (tahun 1972-1973) menekankan perkembangan teks dalam tahap-tahap yang sama dengan perkembangan tradisi. Hal tersebut menimbulkan akibat-akibat yang disebutkan oleh R.P. Benoit dalam membicarakan bagian yang ditulis oleh R.P. Boismard: “Bentuk-bentuk kata-kata atau hikayat yang terjadi setelah perkembangan yang lama tidak mempunyai autentitas (kebenaran) yang terdapat dalam kata-kata asli. Barangkali banyak para pembaca yang heran atau kesal jika mereka mengetahui bahwa kata-kata Yesus, atau kiasannya atau ramalannya tentang nasibnya tidak pernah diucapkan seperti yang kita baca, akan tetapi sudah di retouche (diperbaiki) atau disesuaikan oleh orang-orang yang meriwayatkannya. Bagi mereka yang tidak biasa dengan penyelidikan sejarah semacam ini, hal ini mungkin menyebabkan keheranan bahkan kehebohan.”

Perbaikan teks dan penyesuaian yang dilakukan oleh mereka yang meriwayatkan teks tersebut kepada kita dilakukan menurut cara yang oleh R.P. Boismard digambarkan secara terperinci karena persoalan itu merupakan sambungan daripada teori dua sumber. Gambar atau skema itu dibuat setelah mengadakan penyelidikan dan perbandingan teks yang tak dapat diringkaskan di sini. Para pembaca yang ingin mengetahui dapat membaca bukunya, diterbitkan di Paris, cetakan Cerf.

Konklusi dari semua ini adalah bahwa dengan membaca Injil, kita tidak yakin sama sekali bahwa kita membaca kata-kata Yesus. R.P. Benoit memperingatkan pembaca Injil tentang hal ini, tetapi memberi ganti (kompensasi) sebagai berikut: Jika pembaca terpaksa tidak dapat mendengarkan suara langsung daripada Yesus, ia mendengar suara Gereja; pembaca Injil percaya kepada juru bahasa yang disahkan oleh Yesus, yang setelah pernah bicara di dunia ini sekarang berbicara dari langit.

Bagaimana kita dapat menyesuaikan pengakuan resmi bahwa beberapa teks Injil tidak autentik, dengan kalimat-kalimat Konsili Vatikan II tentang wahyu Ilahi yang meyakinkan kepada kita tentang terjadinya transmisi (periwayatan) yang jujur daripada kata-kata Yesus: “Injil empat yang diakui oleh Gereja tanpa ragu-ragu tentang sejarahnya, telah menyampaikan secara jujur apa-apa yang diperbuat dan diajarkan oleh Yesus, putra Tuhan bagi keselamatan abadi, yaitu selama ia hidup diantara manusia sampai ia diangkat ke langit.”

Nampaklah dengan jelas sekali bahwa hasil penyelidikan Sekolah Bibel di Yerusalem telah membantah keras deklarasi Konsili Vatikan II. Pada tahun-tahun pertama setelah munculnya agama Kristen, beredarlah bermacam-macam tulisan mengenai Yesus. Tulisan-tulisan itu tidak dianggap autentik dan Gereja memerintahkan supaya tulisan-tulisan itu disembunyikan. Inilah asal timbulnya kata: apokrif (Injil yang disembunyikan). Dari pada teks tulisan-tulisan tersebut ada sebagian yang terpelihara baik karena mendapat penghargaan umum, seperti surat atau ajaran Barnabas, tetapi banyak lainnya yang dijauhkan secara brutal sehingga yang ada sekarang hanya sisa-sisanya dalam bentuk fragmen. Begitulah yang dikatakan oleh Terjemahan Ekumenik. Karena dianggap sebagai penyebab kesesatan, maka tulisan-tulisan tersebut dianggap tidak ada. Walaupun begitu, karangan seperti Injil orang-orang Nazaret, Injil orang Ibrani, Injil orang Mesir yang diketahui oleh pendeta-pendeta gereja, mempunyai kedudukan yang hampir sama dengan Injil Kanon. Begitu juga Injil Thomas dan Injil Barnabas.

Dari La Bible, le Coran et la Science oleh Dr. Maurice Bucaille dari Perancis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: