Titik Awal Pengembaraan

Al Anbiyaa’
Ayat 30. Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Isi dari ayat ini  menegur orang-orang kafir yang mengabaikan keajaiban-keajaiban yang terlihat nyata. Pendirian dasar ateisme adalah bahwa materi tidak memiliki awal dan bahwa materi adalah hal yang telah menghasilkan segala sesuatu, baik benda hidup maupun benda mati, dengan secara kebetulan. Teori Big Bang membantah penegasan dasar dari ateisme ini dan memaparkan bahwa jagat raya dan waktu memiliki awal. Dan seperti yang tersirat oleh ayat diatas, fakta bahwa langit dan bumi adalah dalam keadaan suatu kesatuan sebelum mereka dipisahkan adalah sesuatu yang sangat masuk akal.

Tahun 1900-an adalah masa keberhasilan  banyak penemuan ilmiah. Masa itu  adalah masa di mana beberapa orang mencoba menunjukkan adanya kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan agama.

Secara gegabah mereka bertindak mengikuti nafsu yang diakibatkan oleh kesejahteraan yang dihasilkan revolusi industri, sehingga banyak orang tersesat pada pemikiran materialisme.

Kenyataan bahwa materi telah diciptakan – bahwa materi memiliki awal – sebagaimana dibuktikan oleh teori Big Bang, adalah pukulan bagi orang-orang ateis. Dengan  menyelesaikan kalimat dari ayat “Apakah mereka bahkan lalu tidak percaya?” adalah mengkonfirmasikan kebenaran dari orang-orang ateis ini yang tetap pada pendiriannya walaupun bukti-bukti telah diperlihatkan.

Dalam sejarah, belum ada satupun, selain Al Qur’an, yang mengklaim bahwa jagat raya itu mengembang dan bahwa langit dan bumi telah terpisahkan dari suatu kesatuan.

Para pemikir dari Yunani kuno; abad pertengahan; abad modern; Plato; Thales – semuanya itu telah berupaya untuk menjelaskan fenomena alam dengan terminologi alam – Ptolemy, Copernicus, dan Kepler Kant, tidak ada satupun pikiran besar yang memiliki suatu gambaran dari sesuatu alam semesta yang mengembang dan daripada fakta bahwa sebelum penciptaan langit dan bumi keseluruhannya itu dalam suatu perpaduan.

Tanpa peralatan canggih dari abad kedua puluh di tangan mereka, dan tanpa adanya akumulasi semua data ilmiah, para pilsuf dan ahli fisika telah gagal untuk mengakui fakta ini.

Pencipta alam semesta mengkomunikasikan fakta penting tersebut tentang penciptaan-Nya dalam kitab-Nya dan melimpahkan cahaya pada orang-orang yang beriman, demikian juga membuktikan bahwa Al Qur’an adalah wahyu yang diturunkan-Nya.

Allah-lah yang membeberkan untuk manusia bukti-bukti dari penciptaan-Nya, penciptaan yang berasal dari satu titik di mana manusia berdiri sebagai titik yang lain. Adalah penting untuk dicatat bahwa sementara menunjuk pada wahyu yang mudah dimengerti dalam ayat, “Bukankah orang-orang kafir ini melihat …?” Dia menggambarkan lebih dulu sikap keras kepala dari orang-orang kafir:” Apakah bahkan lalu mereka tidak percaya?” “Einstein sendiri mengatakan bahwa apa yang mengejutkan dirinya adalah bisa dimengerti-nya penemuan-penemuannya tentang alam semesta, lebih dari penemuannya itu sendiri. Ini menunjukkan betapa pentingnya untuk menekankan bukti bahwa fenomena ini masih dalam jangkauan kapasitas mental manusia.

Radiasi latar kosmik

Kesatuan asal dari jagat raya dinyatakan oleh kata Bahasa Arab “ratq,” artinya keadaan terpadu dan kata “fatq,” menandakan disintegrasi oleh pemisahan.

Telah dikabarkan bahwa Lemaître telah menyatakan teori pemisahan ini seperti yang dijelaskan dalam ayat Al Qur’an, dimana pada pertama kali teorinya ini telah disangkal. Salah satu argumen sangkalan penting ini adalah berasal dari Fred Hoyle. Pada tahun 1940an Fred Hoyle menantang  bahwa jika Big Bang secara efektif telah terjadi seharusnya terdapat sisa dari sebuah ledakan, dan meminta fosil-nya ditampilkan. Kritik yang menyindir ini  menyebabkan banyak penemuan barang bukti yang mendukung teori Big Bang. Ungkapan “fosil” yang diucapkan oleh Hoyle menjadi kata ilmiah untuk kemudian ditemukan bukti kenyataannya. Walaupun dia mencoba untuk menghilangkan prasangka terhadap teori Big Bang dalam cara yang humoris, dia tanpa disadari telah memberikan kontribusi untuk mengkonfirmasi teori Big Bang.

Pada 1948, George Gamow dan pelajarnya Ralph Adler menyimpulkan bahwa jika teori Big Bang benar, harus ada fosil yang tertinggal sebagaimana klaim Hoyle.

Menurut logika mereka, radiasi latar belakang tingkat rendah harus sudah ada di setiap arah sejak semesta telah mulai berkembang menyusul peristiwa Big Bang. Radiasi selain yang disebabkan oleh Big Bang harus memiliki titik khusus di dalam ruang  darimana berawal. Tetapi radiasi yang dihasilkan oleh sebuah ledakan tersebut tidak dapat diusut kembali ke suatu titik. Dengan perluasan semesta yang dinamis radiasi harus telah tersebar ke setiap penjuru jagat raya.

Pada tahun 1960, bentuk radiasi yang dibayangkan oleh Gamow dan Adler dibuat subjek penelitian oleh sekelompok ilmuwan dengan instrumen presisi mereka di Universitas Princeton. Namun, apa yang  mereka cari telah ditemukan oleh orang lain dalam cara yang sangat menarik.

Arno Penzias dan Robert Wilson adalah peneliti di Perusahaan Telepon BELL. Suatu hari, tanpa disangka, mereka mendeteksi sebuah Radiasi microwave uniform yang mengemukakan bahwa itu adalah sisa energi panas seluruh jagat raya dari sekitar 3 Kelvin, yang merupakan suhu 3 derajat Celsius di atas suhu mutlak 0 derajat. Pada awalnya Penzias dan Wilson tidak dapat mengurai kekusutan misteri ini dan harus memanggil kolega mereka Robert Dicke dan timnya untuk membantu fakta penemuan ini yang membawa mereka merebut penghargaan Nobel. Survei dari radiasi kosmik 3 derajat Kelvin menunjukkan bahwa radiasi itu adalah sempurna seragam adanya di seluruh penjuru jagat raya. Maka Fosil Big Bang yang oleh Hoyle dianggap tidak ada itu telah mereka temukan. Maka hadiah Nobel jatuh ke tangan Penzias dan Wilson.

Satelit dalam mendukung teori big bang

Setelah Penzias dan Wilson berbagi Nobel di tahun 1965, Cosmic Background Explorer (COBE), telah diroketkan ke langit pada tahun 1989. Data yang diterima dari COBE mengkonfirmasi penemuan Penzias dan Wilson. Sejumlah besar ilmuwan mengevaluasi data yang dihasilkan oleh COBE sebagai bukti yang meyakinkan. Dengan demikian proses yang diprakarsai oleh Lemaître pada tahun 1920 telah memperkuat  sekali lagi dengan penemuan baru di tahun 1990-an. Tahun 1400 telah berlalu sejak wahyu dari Al Qur’an dan temuan satelit divalidasi dengan pernyataan yang tidak ada kontradiksi antara keduanya. Maka jelaslah, Islam adalah agama yang menghapus pandangan adanya kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan agama.

Residu radiasi yang Penzias dan Wilson ketemukan selaras dengan data COBE, menunjukkan tentang keberadaan peristiwa Big Bang. Salah satu bukti yang menyokong teori Big Bang adalah teori yang terkait dengan rasio hidrogen-helium di alam semesta. Pada 1930, astronomers, berdasar studi  pada fakta bahwa setiap objek angkasa memancarkan cahaya tertentu, dengan bantuan spectroscope mereka menganalisa komposisi bintang-bintang dan galaxi-galaxi. Perhitungan dibuat dengan spectroscope dan dengan formula matematika menunjukkan bahwa jagat raya, pada tahap awal, rata-rata terdiri dari 73% hidrogen dan 25% helium dan 2% gas lainnya seperti karbon dan oksigen. Bintang tidak akan menghasilkan hidrogen dan helium yang begitu banyak. Perhitungan dilakukan oleh para ilmuwan yang menjadikan 20% -30% dari helium harus telah dihasilkan sebelum evolusi bintang-bintang. Hanya bola api purba yang dahsyat pada awal Big Bang yang telah dapat menghasilkan semacam cahaya sintesis; bangkitnya Big Bang dan kuantitas hidrogen dan helium di ruang angkasa hanyalah beberapa bukti untuk validasi teori Big Bang.

Meskipun bukti ilmiah yang tersedia itu  sendiri adalah mencukupi untuk membuktikan teori Big Bang, kita menyaksikan suatu peningkatan yang stabil tentang bukti-bukti ini. Medium Big Bang dibuat di CERN (Conseil Européen pour la recherche Nucléaire), yaitu laboratorium dunia yang terkenal yang paling kuat dan serbaguna di Swiss dengan fasilitas-fasilitasnya yang sangat besar. Temuan-temuan dari penelitian yang dilakukan di sini telah  lebih banyak mendukung teori Big Bang.

Hukum termodinamika mendukung teori menurut mana jagat raya harus mempunyai awal; kedua hukum termodinamika menyatakan bahwa beberapa proses di alam merupakan yang tidak dapat diubah dan searah, arah yang didiktekan oleh keseluruhan peningkatan entropy. Dengan demikian, energi tumbuh kurang dan kurang berguna hingga menjadi tidak menguntungkan. Jika semesta dan materi telah ada dari kekekalan, pergerakan akan berhenti dalam waktu yang kekal abadi. Di sisi lain, keabadian tidak berlalu; jika sebaliknya, maka hal itu tidak lagi sebagai sebuah keabadian. Secara ringkas, faktanya yang sangat jelas bahwa yang akan terjadi pada titik ini mengandung arti keberadaan suatu  awal-mula. Jika kita berpikir bahwa waktu itu tidak diciptakan, maka kontradiksi yang tidak dapat dihindari dan akan berakhir dengan dilema. Satu-satunya solusi untuk dilema yang akan menyodorkan fakta bahwa waktu telah diciptakan dan bahwa alam semesta harus mempunyai awal-mula; ini, sebagai terbukti dengan Tiori Big Bang, yang saling memvalidasi bukti-bukti.

Apakah Muhammad, mengirimkan sebuah Satelit?.

Kita telah menyaksikan verifikasi data yang diterima dari satelit di ruang angkasa. Bagaimana kejadiannya Nabi memiliki wawasan mengenai fakta bahwa bumi dan langit sebagai massa yang terpadu sebelum mereka terpisah? Apakah Nabi mempunyai teleskop yang tersembunyi di bawah gunung pasir, atau memiliki teleskop  secanggih teleskop Hubble?. Apakah orang-orang yang tidak percaya akan klaim bahwa Muhammad sekarang menemukan suatu kesatuan yang mula-mula dari langit dan bumi dengan memiliki jalan lain pada perhitungan dari latar belakang radiasi kosmik, dan bahwa ia telah dikirim dengan satelit panjang sebelum peluncuran COBE, 1400 tahun lalu? Penzias dan Wilson telah berbagi hadiah Nobel untuk penemuan tersebut. Apakah orang-orang tidak beriman akan mencalonkan Muhammad sebuah hadiah Nobel untuk Fisika 1400 tahun yang lalu ketika mengumumkan bahwa alam semesta telah dipandang secara keseluruhan sebelum ruang angkasa berkembang?.

Adalah jelas bahwa siapapun yang menentang bahwa Al Qur’an tidak dikirim oleh Tuhan, tetapi adalah pekerjaan Nabi, tentu akan menjadi bahan ejekan. Namun, mereka yang memutuskan untuk tetap tidak beriman akan tetap bersikeras pada pendirian mereka, tanpa memperhitungkan semua bukti yang ada di hadapan mereka.

Orang-orang yang bertentangan dengan Ibrahim, Musa dan Isa akan bertentangan juga dengan Muhammad s.a.w. Psikologi dari orang-orang kafir tidak pernah berubah sepanjang sejarah.

Mereka yang menentang Musa menyatakan bahwa mereka akan mematuhi keyakinan mereka sendiri, tidak peduli kepada ayat-ayat yang Musa a.s. tunjukkan.

Al A’raaf
132. Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.”

Big Bang: Ayat Keesaan Allah

Kepercayaan Politeisme telah mempamerkan struktur yang berbeda sesuai dengan masyarakat dan waktu di mana mereka  berkembang.

Kepercayaan kuno Politeisme di Mesir berbeda jauh dari di India. Namun, sistem ini memiliki hal yang umum. Setiap tuhan itu dianggap memiliki domain di mana dia memiliki kedaulatan. Matahari adalah Tuhan, juga Bulan, dan Dewa pelindung adalah bukit-bukit sebagai benda hidup. Beberapa dewa mengontrol hujan, ada yang mengontrol angin; beberapa memiliki kontrol atas gunung-gunung, sungai-sungai.

Berlawanan dengan sistem kepercayaan yang keluar dari paket alam semesta, agama monoteistik, yaitu Judaisme, Kristen dan Islam, melihat semesta secara keseluruhan. Agama-agama ini menyatakan bahwa   pemisahan tidak dapat dibayangkan dalam satu alam semesta yang diciptakan Tuhan. Menurut agama-agama ini apa yang tampaknya dibagi-bagi adalah hanya dalam penampilan, sementara esensi dari seluruh semesta adalah satu; Alam semesta ini diperintah  Allah adalah satu entitas, dengan setiap  satu poin saling terkait dengan semua poin yang lain.

Para filsuf terkenal di masa lalu, dari Kindî, Farabi, Ibnu Sina dan Averroes hingga  Sarjana-sarjana Kristen, telah mengumumkan bahwa “Satu berasal dari satu,” membuktikan keesaan Tuhan. Para pemikir ini telah mencoba untuk menemukan korelasi antara kejadian di alam semesta yang kesimpulan logisnya keesaan Tuhan.

Sebagai akibat Big Bang, kesatuan ini sekali lagi terbukti. Asal alam semesta telah tidak dapat dibantah sebagai satu komposisi. Mempertimbangkan segala sesuatu yang berkembang dari satu entitas ini, semua elemen harus benar-benar berkaitan satu sama lain. Tidak ada seorangpun yang dapat menyatakan bahwa matahari, bulan, manusia, ular atau tanaman masing-masing memiliki pencipta yang berbeda. Bagaimanapun Big Bang membuktikan bahwa Tuhan adalah Esa.

Diterjemahkan dari THE POINT OF DEPARTURE OF OUR ODYSSEY oleh Quranic Research Group.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: